Baju Bodo, Pakaian Adat Bugis yang Legendaris

Baju Bodo, Pakaian Adat Bugis yang Legendaris

Baju Bodo merupakan salah satu pakaian adat suku Bugis yang legendaris. Baju adat yang diperuntukkan untuk wanita yang kayak makna dan filosofi, bahkan diperkirakan sebagai pakaian tertua di dunia.

Keberagaman Indonesia tidak hanya berasal dari budaya dan keseniannya saja, namun juga pakaian adat yang dikenakannya. Pakaian adat setiap daerah di nusantara memiliki ciri khas serta keunikan masing-masing seperti salah satu pakaian adat tepatnya suku bugis yang memiliki nama baju Bodo.

Pakaian adat Bodo merupakan pakaian adat untuk perempuan suku Bugis dan juga dianggap sebagai pakaian adat yang tertua di dunia. Baju adat ini sendiri terbuat dari kain tenun yang sudah dikenal sejak abad ke 9 oleh masyarakat suku Bugis.

Bentuk baju ini cukup sederhana yaitu berbentuk segi empat yang lengannya pendek di atas siku. Dahulu baju Bodo hanya digunakan pada acara penting saja seperti upacara pernikahan. Namun kini, ia juga digunakan sebagai busana untuk tari tradisional baik untuk perlombaan maupun penyambutan tamu.

Fakta Tentang Baju Bodo

Fakta Tentang Baju Bodo

Image Credit: Facebook.com @utama.sutra.5

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pakaian adat ini merupakan jenis pakaian tertua, tidak hanya di Indonesia namun di dunia. Pakaian ini berasal dari tenunan kapas yang dipilin dan disatukan dengan benang. Hasil tenunan kain muslin ini terdapat rongga-rongga kecil sehingga transparan tidak serapat dan setebal kain lainnya. Kain ini sangat cocok digunakan untuk daerah tropis.

Dalam sebuah penelitian yang terdapat dalam buku The Travel Of Marcopolo menyebutkan jika kain muslin atau kain kasa diperdagangkan kaum Musolini dan dibuat di Mosul (Irak). Akan tetapi masyarakat Bugis jauh lebih mengenal kain tenun dari kapas ini terlebih dahulu pada abad ke 9. Sedangkan pada abad ke 17 bangsa Eropa baru mengenalnya dan abad ke 18 barulah ia banyak diminati di Perancis.

Berbeda dengan Indonesia yang sudah mengakui usia pakaian ini, dalam lingkup internasional fakta ini masih belum banyak diketahui. Hanya ada beberapa peneliti atau segelintir orang yang mengetahui kebenaran faktanya.

Keunikan yang Dimiliki Baju Adat Bugis

Keunikan yang Dimiliki Baju Adat Bugis

Image Credit: Facebook.com @andi.m.z.52

1. Berlengan Pendek

Kata ‘bodo’ pada pakaian adat ini memiliki arti pendek. Baju ini memiliki desain yang simpel dengan lengan pendek di atas siku. Awalnya baju ini didesain segi empat dengan lubang untuk kepala dan lengan tanpa adanya tambahan desain yang rumit lainnya.

BACA JUGA:  Menikmati Keindahan Air Terjun Bantimurungna Gallang Gowa yang Eksotis

Dahulu baju ini digunakan tanpa dalaman dan hanya menggunakan kain yang transparan sehingga membuat bagian dada terekspos. Namun saat ini banyak penggunaan kain dirangkap atau ditambahkan dalaman dengan warna yang lebih terang saat dipakai sehingga bagian dada tertutupi. Pemakaian kain yang cukup tebal ini juga dipengaruhi oleh budaya Islam.

2. Digunakan Bersama Sarung

Pakaian adat suku Bugis ini dipakai bersama sarung untuk menutupi bagian bawahnya. Suku bugis terdahulu memakai baju Bodo ini hanya menggunakan sarung yang dililitkan dari pinggang hingga mata kaki. Jika biasanya sarung dililitkan dan membuat bagian bawah dan kaki rapat namun pada pakaian ini sarung sengaja dipasang longgar sesuai dengan bentuk atasannya.

Perempuan suku Bugis saat itu biasa memakai sarung dan baju Bodo tanpa dalaman sehingga lekuk dada terlihat jelas. Namun seiring berjalannya waktu, seorang raja Brunei James Brooke pada 1840 berkunjung ke istana Bone dan memperhatikan bentuk baju tersebut. Sejak saat itu dan ditambah masuknya agama islam membuat baju tersebut mengalami beberapa perubahan.

3. Menggunakan Perhiasan dan Pernak-Pernik Lainnya

Memakai pakaian adat ini kurang lengkap rasanya jika tidak disertai dengan perhiasan atau aksesoris. Aksesoris yang digunakan tidak hanya pada kepala namun juga untuk leher, lengan bahkan pinggang. Beberapa aksesoris tersebut diantaranya yaitu anting, bando, kalung bersusun, kalung panjang, gelang jenis keroncong dan lebar serta ikat pinggang berwarna emas.

Aksesoris yang digunakan tersebut memiliki corak yang unik serta gambar yang detail untuk setiap bagiannya. Aksesoris yang telah disebutkan di atas adalah varian yang lengkap dan biasa digunakan untuk pengantin wanita. Namun jika tidak digunakan untuk perhiasan maka aksesoris yang dipakai tidak perlu sebanyak itu cukup seadanya saja.

Perhiasan atau aksesoris tersebut terbuat dari perak sehingga tidak akan terlalu berat ketika digunakan. Aksesoris yang cukup ringan ini menjadi satu kesatuan dengan desain simpel baju Bodo.

4. Digunakan untuk Acara Penting

Penggunaan baju adat ini sebenarnya hanya digunakan untuk acara penting saja salah satunya acara pernikahan. Seiring berkembangnya zaman, kini pakaian adat ini kerap dipakai acara-acara untuk persembahan seperti menyambut tamu, tarian tradisional, pagar ayu bahkan acara lain seperti festival budaya.

BACA JUGA:  Menilik Warisan Budaya Kerajaan Luwu di Museum Batara Guru

Namun dengan banyaknya model baju yang lebih modern, membuat ia sedikit peminat. Oleh karena itulah para desainer mulai berinovasi pakaian tradisional tetap eksis. Baju Bodo yang terlihat simpel saat ini banyak didesain dengan model yang lebih modern namun tetap mempertahankan keasliannya.

Filosofi dari Baju Bodo, Pakaian Adat Suku Bugis

Filosofi dari Baju Bodo, Pakaian Adat Suku Bugis

Image Credit: Indonesiakaya.com

1. Warna Baju Memiliki Makna

Baju adat suku Bugis ini memiliki filosofi tersendiri pada setiap warnanya. Warna yang terdapat pada baju ini melambangkan usia serta harkat martabat. Baju ini memiliki warna-warna beragam seperti ungu, jingga, merah darah, hijau, putih, hitam, kuning dan lain sebagainya. Setiap warna tersebut mempunyai arti masing-masing.

Warna baju merah darah digunakan untuk perempuan atau remaja yang masih berusia belia antara 17 hingga 25 tahun. Warna ini juga digunakan untuk perempuan yang sudah menikah namun belum memiliki keturunan. Filosofi dibalik warna merah ini yakni bahwa wanita tersebut sudah mengeluarkan darah dari rahimnya.

Warna jingga digunakan oleh para gadis yang masih berusia 14 sampai 17 tahun. Namun pemakaiannya dibuat berlapis karena pada usia tersebut payudara sudah mulai membesar. Sedangkan baju yang berwarna jingga atau pink digunakan untuk anak perempuan yang berusia 10 sampai 14 tahun. Dalam bahasa Bugis pink disebut Bakka yang bermakna setengah matang.

Dan warna hitam dipakai oleh perempuan berusia 25 hingga 40 tahun. Sementara baju Bodo berwarna hijau digunakan para perempuan bangsawan atau para putri berpangkat. Menurut masyarakat Bugis hijau mempunyai makna kudara dimana mereka sangat menghormati darah bangsawannya.

Lalu atasan berwarna ungu digunakan oleh para janda baik itu yang suaminya meninggal maupun bercerai. Sedangkan pakaian adat berwarna putih dipakai oleh para pengasuh, pembantu serta para dukun.

Sedangkan warna kuning atau suku Bugis menyebutnya dengan Waju Pella-pella dipakai untuk anak-anak. Pella-pella memiliki arti kupu-kupu dimana ia selalu terbang dan ceria seperti dunia anak. Namun kini, warna pada baju Bodo ini sudah tidak berlaku dan warna yang dipakai bisa menyesuaikan sesuai keinginan pemakainya tanpa memperhatikan usia dan statusnya.

2. Baju yang Melambangkan Kecantikan

Konon baju adat suku Bugis ini melambangkan sebuah kecantikan dan keanggunan seorang perempuan. Perpaduan baju Bodo dan sarung membuat setiap wanita Bugis memiliki aura keanggunan yang tinggi. Meskipun bentuknya sederhana nyatanya pakaian yang digunakan untuk para kaum wanita ini memiliki arti yang sangat indah.

BACA JUGA:  Melihat Keindahan Kota Palopo dari Bukit 513

Cara Membuat Baju Bodo

Cara Membuat Baju Bodo

Image Credit: Carousell.com

1. Memilih Kain dan Warnanya

Langkah pertama membuat baju tradisional ini yaitu memilih jenis kain yang akan digunakan. Kain yang digunakan pada pakaian adat ini adalah kain muslin. Kain tersebut memiliki banyak jenis mulai dari yang halus hingga kasar.

Selain kain muslin, hendaknya juga memilih kain lain untuk dalaman karena kain muslin transparan sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan satu jenis kain saja. Pilih kain yang seusia dengan keinginan dan selaraskan dengan warna kain muslin.

2. Menyesuaikan Ukuran Badan

Setelah mendapatkan kain dengan jenis dan warna yang diinginkan maka berikutnya mengukur ukuran badan. Saat mengukur badan pastikan bagian bawah pas tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Dan yang tak kalah penting ukur badan agar baju bisa nyaman saat digunakan.

3. Membuat Pola

Buat pola baju Bodo yang ukurannya telah disesuaikan dengan badan. Ketika membuat pola persiapkan barang-barangnya terlebih dahulu seperti penggaris, bolpoin atau pensil, kertas kopi atau koran, skala, serta dorslag. Buat pola sesuai dengan desain baju Bodo dan ukuran badan.

Setelah membuat pola, kemudian tempel dan bentangkan pola tersebut ke kain yang akan digunakan. Atur pola dan kain agar berada di posisi yang pas lalu sematkan jarum pentul untuk mengikat kain dan bila perlu cek kembali ukuran agar tidak ada kesalahan.

4. Memotong Kain Sesuai dengan Pola

Gambar pola yang telah ditempelkan di atas kain kemudian di potong. Gunakan gunting dan ikuti alur serat kain ketika memotong kain agar tidak ada benang yang mengerut. Gunting bagian tepi terlebih dahulu dan lakukan dengan perlahan.

5. Menjahit

Usai memotong kain, maka selanjutnya yaitu menjahit potongan kain agar menjadi baju Bodo. Siapkan mesin jahit atau bras untuk menjahit bagian tepi dan menyambungkan kain. Setelah semua tersambung dan menjadi sebuah baju, tambahkan payet atau manik-manik agar lebih indah.

Itulah penjelasan tentang pakaian adat Bugis yaitu baju Bodo serta langkah membuat baju tersebut. sebagai baju adat tertua dan kaya akan filosofi patut rasanya untuk terus menjaga serta melestarikannya agar bisa dikenal hingga anak cucu.