2 Pakaian Adat Gorontalo

Pakaian Adat Gorontalo

Indonesia memang kaya akan alamnya hingga adat istiadat yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Seperti halnya Gorontalo yang merupakan provinsi baru, baju adat dan yang berkaitan dengan adat tetap dimilikinya. Menariknya lagi baju adat milik Gorontalo ini juga tidak lepas dari filosofi yang patut untuk diulik. Untuk menambah wawasan, yuk mengenal lebih dekat baju adat dari Gorontalo yang menawan dalam ulasan berikut.

1. Baju Adat Perempuan

Baju Adat Perempuan

Image Credit by Gopos.id

Pakaian adat dari Gorontalo memang kerap digunakan ketika acara pernikahan sedang berlangsung. Dan baju adat milik sang perempuan terlihat mencolok dengan hiasan rumit yang membuatnya tampak anggun dan megah disaat bersamaan. Baju adat ini diberi nama dengan biliu yang berarti diangkat. Biliu dipakai ketika mempelai perempuan bersanding di puade atau tempat pelaminan untuk menjadi ratu dalam sehari.

Baju adat dari Gorontalo ini terlihat sangat khas dan juga menarik karena adanya tambahan berupa aksesoris yang membuatnya nampak lebih mewah. Tentunya aksesoris ini akan berbeda dengan pakaian adat yang digunakan untuk hari biasa. Misalnya pada anak anak sentuhan modern terlihat lebih menonjol dan hal ini membuat anak anak terlihat menggemaskan. Sudah mengerti bukan jika aksesoris menjadi pembeda di dalam baju adat Gorontalo ini.

Bahkan untuk aksesoris perempuan dan laki laki saja dibedakan karena filosofinya yang berbeda. Untuk aksesoris yang paling terlihat adalah Baya Lo Boute atau ikat kepala yang dipakai oleh pihak perempuan. Ikat kepala ini melambangkan bahwa seorang wanita akan memiliki ikatan sebuah pernikahan dengan laki laki. Ikat kepala ini juga sebagai simbol jika sang perempuan harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri nantinya.

Aksesoris selanjutya adalah Tuhi-tuhi yang juga diletakkan pada bagian kepala berupa gafah dengan jumlah 7 buah. Tuhi tuhi ini ternyata melambangkan persaudaraan yang terjalin di antara 7 kerajaan. Yakni kerajaan Gorontalo, Bulango, Tuwawa, Limboyo, Hulotalo, Atingola dan Limitu. Hubungan persaudaraan ini terjalin bergitu akur dan tidak pernah terjadi adanya perselisihan di antara ketujuh kerajaan yang ada di Gorontalo ini.

Lai lai merupakan aksesoris wajib yang harus ada dalam baju adat Gorontalo. Biasanya aksesoris ini diletakkan di ubun ubun yang meskipun baju modern atau tradisional tidak boleh meninggalkan aksesoris satu ini. Karena memang lai lai ini memiliki arti yang sangat dalam yaitu budi luhur, keberanian dan kesucian. Untuk itulah aksesoris satu ini tidak boleh dilewatkan ketika memakai pakaian adat khas dari Gorontalo.

Buohu walu wawu dehu adalah aksesoris yang diletakkan di leher karena berupa kalung emas ataupun kalung perak dengan warna keemasan. Aksesoris ini tiak berlaku untuk baju adat yang dikenakan oleh anak anak. Sebab, aksesoris ini memiliki filosofi sebagai ikatan keluarga yang terjalin pada keluarga pengantin wanita dan juga pengantin laki laki. Aksesoris lainnya yakni Kecubu atau Lotidu yang tempatnya berada di dada pengantin perempuan.

Kecubu sendiri merupakan simbol dari kekuatan yang harus dipunyai oleh istri. Dalam adat Gorontalo, seorang perempuan haruslah kuat dalam menghadapi segala rintangan dan kerasnya hidup. Pateda yaitu aksesoris yang berupa gelang dengan ukuran yang lebar dan memiliki warna keemasan. Gelang ini juga memiliki arti sebagai benteng untuk perempuan. Dimana seorang perempuan harus membentengi diri dari perbuatan tercela yang nantinya melanggar hukum negara maupun adat.

Aksesosis pada baju adat pengantin perempuan juga ada yang bernama Etango. Etango adalah sebuah ikat pinggang dengan motif yang hampir sama dengan kecumbu. Erango ini merupakan simbol kewajiban untuk seorang istri. Salah satu kewajiban tersebut adalah dengan tidak memasak makanan yang tidak sesuai syariat Islam dan bukan makanan yang haram. Seorang istri juga harus selalu menerima serta hidup dengan sederhana.

Loubu adalah aksesosis yang digunakan pada jari kelingking dan jari manis baik kelingking kanan maupun kelingking kiri. Kedua jari ini harus dilengkapi dengan Loubu karena aksesoris ini juga memiliki arti  yang baik. Laoubu merupakan simbol ketelitian yang harus dimiliki oleh perempuan. Seorang perempuan juga tidak boleh buru buru dalam mengerjakan kegiatan apapun hingga menimbulkan kecerobohan yang merugikan.

2. Baju Adat Laki Laki

Baju Adat Laki Laki

Image Credit by Mahligai-indonesia.com

Tidak hanya mempelai wanita yang menggunakan baju adat khas Gorontalo ketika melangsungkan pernikahan. Memang untuk aksesoris yang dikenakan oleh laki laki tak terlalu banyak seperti halnya perempuan. Namun aksesorisnya wajib dikenakan serta ada filosofi mendalam di setiap aksesorisnya. Umumnya aksesoris yang digunakan untuk mempelai pria terdiri dari 3 aksesoris.

Aksesoris yang pertama adalah tudung Makuta yang tentunya diaplikasikan di kepala. Hiasan ini bentuknya mirip dengan bulu ungas yang menjadi salah satu keunikan pada baju adat Gorontalo. Penutup kepala ini menjulang tinggi keatas dan ada juga bagian yang terkulai ke belakang. Tudung Makuta juga kadang dikenal dengan nama laapia bantali sibii. Ketika seorang pria menggunakannya memang akan terlihat tegas dan elegan.

Nyatanya memang aksesoris ini memiliki filosofi yang begitu apik dan melambangkan sifat suami berdasarkan dengan adat yang ada di Gorontalo. Seorang suami dalam adat Gorontalo berperan sebagai seorang pemimpin di dalam keluarganya. Untuk itulah seorang suami harus memiliki jiwa kepemimpinan tinggi, tegas dan juga berwibawa. Meskipun demikian seorang suami juga harus memiliki sisi kelembutan di balik ketegasan dan kewibawaannya.

Selanjutnya adalah Bako yang merupakan kalung yang dipakai mempelai pria dalam baju adat Gorontalo. Bako bewarna keemasan yang memiliki simbol sebagai ikatan dimana pria tersebut telah memiliki ikatan pernikahan dengan seorang perempuan. Dan aksesoris yang tak bisa dilewatkan selanjutnya adalah Pasimeni. Pasimeni ini hanyalah sebuah hiasan yang berada di baju yang dikenakan oleh mempelai laki laki.

Namun meskipun hanya sebuah hiasan, ternyata Pasimeni ini juga memiliki filosofi tersendiri. Hiasan ini melambangkan keadaan yang terjadi di dalam sebuah kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang dibangun sebaiknya memiliki keadaan yang damai serta harmonis. Rumah tangga juga sebaiknya tak harus ada sebuah pertikaian yang membuat rumah tangga retak.

Pakaian adat ini biasanya digunakan tak hanya pada acara pernikahan saja. Ritual keagamaan hingga acara adat juga biasanya menggunakan pakaian ini. Beberapa kesempatan juga mengenakan pakaian adat ini untuk keperluan kesenian seperti parade atau pentas seni. Karena pagelaran seni yang ada di Gorontalo sering kali menggunakan baju adat untuk menampilkan tari daerah yang dilakukan anak anak.

Selain itu pakaian adat yang dikenakan juga memiliki beberapa warna yang juga memiliki filosofi sendiri. Misalnya warna merah yang menunjukkan keberanian serta tanggung jawab. Lain dengan warna kuning keemasan yang menujukkan kejujuran, kemuliaan, kebesaran serta kesetian. Hal ini tentunya membuat pakaian adat dari Gorontalo ini memiliki keunikan yang sangat menarik. Filosofinya juga sarat makna jika dikehuai dan diterapkan dalam kehidupan.