Pattuqduq Towaine – Pakaian Adat Suku Mandar

Pattuqduq Towaine - Pakaian Adat Suku Mandar

Keberagaman suku di Indonesia melahirkan sebuah identitas yang tergambarkan dalam desain baju adat, salah satunya Pattuqduq Towaine, pakaian adat suku Mandar.

Indonesia terbentuk akan keindahan budaya, dan juga alamnya. Letak kepulauan yang membentang luas dari Sabang sampai dengan Merauke menjadikannya memiliki sejuta keberagaman. Mulai dari budaya, bahasa, seni dan juga berbagai hal terkait lainnya. Seperti halnya pakaian adat yang memiliki jenis desain dan pemaknaan yang berbeda.

Pakaian adat sendiri merupakan sebuah representasi daerah atas budaya dari suku yang mendiami wilayah tersebut. Fungsinya menjadi satu ciri khas yang membedakan dengan daerah atau suku lainnya. Penggunaannya biasanya dilakukan saat menghadiri acara-acara adat atau keagamaan tertentu.

Suku Mandar, salah satu yang memiliki ragam pakaian adat dengan corak dan juga desain khusus. Memiliki detail dan juga hiasan pelengkap yang berlandaskan sebuah filosofi. Berikut beberapa fakta dan hal-hal unik lainnya berkaitan dengan pakaian adat Mandar, Pattuqduq Towaine.

Keunikan dari Pakaian Adat Mandar

Keunikan dari Pakaian Adat Mandar
Image Credit: Facebook.com @cesulbar

Setiap kebudayaan memiliki perbedaan yang menimbulkan keberagaman. Berdasarkan keadaan tersebut, maka tidak heran jika beberapa aspek budaya yang berkaitan juga akan terpengaruhi.

1. Memiliki Hiasan Pelengkap

Setiap busana adat memiliki hiasan pelengkap yang digunakan untuk memperindah tampilannya. Seperti halnya pada Pattuqduq Towaine, biasanya terdapat sebuah hiasan yang digunakan oleh kaum perempuannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa terdapat sebuah makna simbolik akan budaya yang dianut terhadap kemewahan yang ada pada diri perempuan dan kesederhanaan untuk kaum laki-laki.

Pertama Anda harus tahu apa yang dijadikan untuk penghias kepalanya. Pada busanaa adat Mandar, bagian rambut perempuan yang menggunakan busana tersebut biasanya akan dilengkapi dengan sebuah hiasan berbentuk bunga dan juga sanggulan.

Bentuk bunganya melingkari sanggulan dan berwarna emas biasanya disebut dengan istilah gal. Aturan penggunaannya disesuaikan dengan status sosial pengguna.

Kedua yaitu hiasan yang diletakkan pada bagian tubuh selain tangan dan kaki. Jenis yang digunakan ada bermacam-macam jenisnya diantaranya yaitu perisai (Kawari), kalung koin emas (tombi Diana), sarung motif segi empat berwarna hijau dan merah (tombi sare-sare), tombi tallu dan juga anting (dali). Sedangkan untuk pemakaian kawari diletakkan pada bagian sekitar pinggul.

Ketiga yaitu hiasan yang digunakan pada bagian tangan. Perlengkapan yang dimaksud yaitu Gallang Balleq berupa sepasang gelang degan ukuran yang dimilikinya sekitar 15- 20 cm diletakkan di kedua pergelangan tangan. Jumlahnya beragam tergantung tujuan penggunaanya. Selanjutnya juga ada gelang yang diletakkan di bagian lengannya diberi nama Poto.

Pada bahunya juga diberikan sebuah gelang yang diberi nama Jimma Salletto, biasanya akan penggunaannya dikaitkan dengan sebuah gelang lainnya bernama Teppang. Sedangkan bagi kaum wanita yang memiliki darah bangsawan biasanya diganti dengan Jima Maborong. Terakhir ada kaliki sebagai ikat pinggang serta gelang dengan buliran 8 seperti kelereng yaitu Sima-Simang.

2. Kegunaannya untuk Menari dan Menghadiri Pesta

Tahukah Anda kalau biasanya baju adat hanya memiliki satu fungsi yaitu sebagai gaun untuk pergi ke sebuah pesta pernikahan atau acara adat, ternyata pakaian adat mandar juga digunakan sebagai busana menari. Lalu, apakah terdapat perbedaan diantara dua fungsi penggunaannya tersebut? tentu saja ada. pada saat akan digunakan menari jumlah potongan baju yang dikenakan hanya berjumlah 18 potong.

Sedangkan untuk penggunaan acara adat atau pernikahan biasanya berjumlah 24 potong. Lengkap dengan berbagai bentuk aksesoris yang menjadi pelengkapnya. Keduanya memiliki sebutan yang berbeda, untuk menari disebut dengan baju pokko, sedangkan yang digunakan untuk menghadiri sebuah acara adat atau pernikahan disebut dengan busana rawang bono.

Filosofi yang Dimiliki Pattuqduq Towaine

Pattuqduq Towaine
Image Credit: Budaya-indonesia.org

1. Jenis Penghias Rambut Sebagai Penentu Status Sosial

Tahukah Anda bahwa penghias rambut yang digunakan sebagai pelengkap pakaian adat Pattuqduq Towaine bagi perempuan memiliki sebuah makna simbolik dibalik penggunaannya. Diketahui bersama terdapat sebuah bunga yang terbuat dari logam emas dan ditancapkan melingkar pada sanggul tambahan bagian kepala atau rambut.

Jenis dari penghias tersebut ternyata tidak sembarangan digunakan untuk menambah estetika saja. Karena ternyata setiap pemilihan jenis tusuk bunga emas tersebut disesuaikan dengan siapa yang memakainya. Bagi seorang wanita dai keluarga bangsawan biasanya akan berbeda bentuknya dengan wanita dari keluarga rakyat biasa. Oleh karenanya, hal ini juga menunjukkan status sosial pengguna.

2. Jumlah Penghias Bagian Badan Sebagai Penentu Status Sosial

Informasi kedua yang tidak kalah menarik, yaitu makna simbolik yang terdapat pada hiasan pelengkap yang digunakan pada pakaian adat Mandar perempuan. pada sebuah ketentuan yang berlaku bahwa untuk penggunaan perisai (kawari) jumlahnya ditentukan dengan melihat status sosial yang menggunakannya.

Biasanya untuk perempuan yang berasal dari golongan keluarga atau keturuan seorang bangsawan diperlukan sekitar 4 biji perisa ditempatkan di bagian pinggulnya. Kemudian bagi perempuan dengan status sosial dari keluarga golongan orang biasa, digunakan sekitar 2 biji saja. Hal ini juga menjadi satu cerminan kebudayaan yang berkembang pada masa dahulu.

3. Perhiasan Tangan

Selain perhiasan kepala dan juga badan yang memiliki makna simbolik terkait status sosial dari penggunanya, perhiasan bagian tangan juga memiliki pemaknaan sama. Dimana hal ini berkaitan juga dengan kedudukannya di dalam masyarakat. Biasanya untuk pembedanya terletak pada bagian hiasan yang penggunaannya dikaitkan dengan jalinan Teppang.

Pada bahu perempuan dari golongan rakyat biasa akan dipasang sebuah gelang lebar bernama Jimma Salletto. Sedangkan untuk perempuan dari golongan bangsawan diganti dengan gelang lain yang serupa dengan nama Jima Maborong. Tentu keduanya memiliki bentuk dan juga ciri khas yang berbeda sebagai pembeda yang terlihat sangat jelas.

4. Desain Sederhana Pakaian Laki-Laki Menunjukkan Kegesitan

Apabila pada jenis baju adat Mandar perempuan memiliki berbagai macam bentuk motof dan juga desain, maka tidak berlaku untuk busana laki-laki. Perhiasan atau hiasan yang ada dari ujung rambut hingga kaki pakaian perempuan tidak terlihat dan dikenakan oleh laki-lakinya. Bahkan bisa dikaitkan desain yang digunakan terlihat lebih simple atau sederhana.

Dibuat seperti ini karena sebuah pemaknaan simbolik yang ingin disampaikan, yaitu berkaitan dengan tugas laki-laki sebagai pencari nafkah. Dimana untuk menjalankannya seorang laki-laki harus memiliki sifat yang gesit dan juga cekatan. Sehingga busananya tidak rumit dan lebih sederhana, agar kemudian tidak menghambat kerja dan gerak yang dilakukannya.

Bentuk Desain Pakaian Adat Suku Mandar

Bentuk Desain Pakaian Adat Suku Mandar
Image Credit: Adat-tradisional.blogspot.com

Sebagai salah satu bentuk warisan budaya Indonesia, pakaian suku Mandar memiliki desain yang tidak hanya menonjolkan nilai estetik saja, namun juga filosofisnya. Untuk itulah beberapa perhiasan hingga desain yang dimiliki busana perempuan dan laki-laki berbeda. Hal ini terlihat dari bentuk desainnya yang cukup memiliki perbedaan antara keduanya yang didasarkan pada kegunaan dan makna simbolis.

1. Busana Perempuan

Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa desain yang dimiliki oleh pakaian adat Mandar untuk perempuan lebih komplek dan terdiri dari beberapa komponen pelengkap. Dimana pada setiap detail yang digunakan merupakan sebuah lambang simbolik akan budaya dan juga penggolongan status yang dianut dalam ketentuan adat berlaku pada masa lalu.

Bagian-bagian dari baju adar Mandar perempuan dibagi dalam dua penggolongan yaitu, bagian utama dan juga bagian hiasan. Pada bagian utama terdiri atas beberapa lapis komponen pelengkap, pertama yaitu rawang boko berbentuk baju lengan pendek dengan bahan kain yang memiliki warna cenderung cerah seperti biru dan sejenisnya. Biasanya digunakan sebagai atasan untuk kegunaan acara adat.

Bagian kedua pada pakaian utamanya yaitu bernama Lipaq Saqbe, biasanya digunakan sebagai bawahan berupa sarung dengan motif tenun khas yang dibuat menggunakan alat tradisional. Motif yang dimilikinya juga beragam, mulai dari corak raja atau sureq maraqdia, kemudian ada corak biji delima atau sureq batu dadzima.

Selain itu juga terdapat motif lain seperti corak penghulu (sureq pengulu, dan juga sureq puang lembang, serta sureq puang limboro. Ragam corak tersebut juga digunakan sebagai simbol identitas sosial. Sedangkan bagian tambahannya berupa ragam hiasan seperti penghias kepala berupa tusuk konde emas, hingga dengan hiasan badan dan juga tangan yang telah dijelaskan sebelumnya.

Dari semua bagian tersebut detail dan juga coraknya dipilih berdasarkan sebuah pemaknaan filosofi yang kemudian menjadi satu pembeda status sosial pada seseorang yang berkaitan. Sehingga tidak hanya mengedepankan estetis.

2. Busana Laki-Laki

Seperti yang telah dijelaskan pada informasi di atas, bahwa bagian busana pada pakaian adat Mandar laki-laki dibuat lebih sederhana, dengan ketentuan pemaknaan filosofis yang dimaksudkan. Oleh karenanya bagian-bagian desain sangat sederhana. Biasanya hanya menggunakan sebuah jas berwarna hitam, dipadukan dengan sebuah celana kain hitam panjang.

Sedangkan untuk hiasan tambahan yang digunakan untuk pelengkap hanya sebuah penutup kepala berwarna hitam dengan sedikit motif sebagai penghias. Bagian tubuhnya biasanya ditambahkan sebuah kain sejenis sarung tenung dililit pada bagian pinggang namun hanya menutup sebagian saja.

Itulah beberapa penjelasan yang berkaitan dengan Pattuqduq Towaine, pakaian adat khas Suku Mandar. Tentu setiap jenisnya memiliki keunikan yang menjadi sebuah ciri budaya di suku terkait. pastinya semuanya memiliki pemaknaan filosofis dan juga nilai estetis yang juga tinggi.