Gunung Bawakaraeng, Tempat Mendaki Favorit di Sulawesi Selatan

Gunung Bawakaraeng, Tempat Mendaki Favorit di Sulawesi Selatan

Lokasi: Kab. Gowa
Map: Cek Lokasi

Indonesia terdiri atas berbagai pulau dengan keindahan alam yang luar biasa. Anda bisa eksplor satu per satu untuk menikmatinya secara langsung, termasuk daerah di Sulawesi Selatan. Keindahan yang disuguhkan cukup banyak, mulai dari deerah darat, perairan, alam liar, dan lain sebagainya. Gunung jadi salah satu tempat liar yang cukup bersahabat dengan manusia, sehingga banyak pendaki yang tertarik menjelajah ke Gunung Bawakaraeng yang sarat akan mitos.

Mengenal Mitos yang Terkenal di Bawakaraeng

1. Pasar Anjaya

Pasar Anjaya

Image Credit: Fadlyjafarcaica.blogspot.com

Dilihat dari namanya, banyak yang mengira tempat ini sebagai salah satu tempat jual beli seperti pada umumnya. Lokasi ini identik dengan tempat yang ramai, karena memang betul jadi titik berkumpulnya banyak makhluk. Bukan hanya sekadar isapan jempol, tetapi Anda juga bisa melihatnya melalui peta. Pasar unik satu ini benar benar ada di peta dan secara penampakan memang terlihat berbeda daripada lokasi yang ada di sekitarnya.

Disebut pasar Anjaya, tetapi tidak ada yang tahu asal usul nama tersebut diambil dengan alasan apa. Anda dapat melihat tempat yang berada di antara Gunung Bawakaraeng dan Lompo Battang ini dengan cukup jelas. Pasar tempat berkumpulnya jin ini jadi lokasi yang cukup ditakuti oleh para pendaki karena mitos yang sangat terkenal. Rumornya, para pendaki yang berkunjung ke tempat ini dapat mendengar suara riuh dari kejauhan.

Anehnya, saat mereka mendatangi lokasi yang dimaksud justru sepi tidak ada orang. Anda hanya akan melihat tanah lapang yang luas dengan dikelilingi pohon pohon. Menariknya, lokasi tersebut tidak ditumbuhi pohon sedikitpun sehingga cocok untuk dipakai sebagai tempat pendirian tenda. Akan tetapi, para pecinta alam yang melintas justru dilarang atau disarankan tidak mendirikan tenda di lokasi yang disebut sebagai tempat jin tersebut.

Cerita serupa sudah bukan hanya karangan atau mitos yang disebarluaskan. Melainkan sudah banyak pendaki yang mengalami hal serupa, seperti mendengar suara tetapi tak bisa melihat wujudnya. Suasana akan semakin mencekam saat malam menjelang dan Anda terpisah dari rombongan. Hindari untuk melamun atau sendirian saat melintas di pasar Anjaya agar tidak terjadi hal hal yang tak diinginkan, sehingga Anda pun selamat hingga tujuan.

BACA JUGA:  Puncak Makkaroewa, Wisata Alam Kekinian di Maros

2. Noni di Pos 3

Noni di Pos 3

Image Credit: Hitrekdotkom.blogspot.com

Tentu Anda sudah tidak asing dengan noni atau sebutan untuk wanita berparas cantik nan putih keturunan Belanda. Legenda dari hantu ini beredar sangat luas dan meninggalkan bekas yang cukup mendalam. Pasalnya, kisah Noni sungguh membuat siapa saja tertarik dan merasa kasian dengan nasibnya. Gadis cantik ini salah satu pendaki yang kerap pergi ke puncak bersama kekasihnya. Kejadian tersebut berlangsung sekitar tahun 1970 atau 1980.

Di kala aktivitas pendakian belum banyak dilakukan, justru gadis ini menjadikan Gunung Bawakaraeng sebagai tempat favoritnya. Dikenal sebagai lokasi alam yang menyimpan banyak keindahan, ia pun gemar menghabiskan waktu bersama kekasihnya di tempat itu. Selama beberapa waktu, gadis muda ini tampak ceria setiap kali pergi mendaki.

Ia pun ramah saat melintasi pemukiman warga, tak heran menjadi sangat akrab dengan mereka. Akan tetapi, pada suatu ketika Noni justru datang seorang diri dengan muka yang sangat mendung seakan menyimpan kesedihan. Tidak ada tawa atau keramahan yang ia salurkan kepada orang sekitar serta tak ada sapaan khas yang selalu dilontarkan. Noni pun mendaki selama beberapa lama hingga terasa cukup ganjil karena ia tak juga turun.

Tak seorang pun melihat Noni turun dari puncak Bawakaraeng yang membuat masyarakat justru heran. Tidak biasanya, gadis Belanda itu selama berhari hari terutama karena ia hanya membawa paralatan seadanya. Beberapa hari berlalu, hingga seorang warga pergi ke sekitar kaki gunung, tepatnya di pos 3 jalur pendakian. Laki laki itu berteriak menghebokan warga karena melihat Noni gantung diri di salah satu pohon yang ada di pos 3.

Pohon tanpa ranting dan daun yang dipakai sebagai penanda pos 3 justru jadi tempat kematian sang gadis cantik keturunan Belanda. Hingga saat ini, tumbuhan itu masih berdiri kokoh tanpa ada yang berani mengusiknya. Dan uniknya, mitos serta cerita tentang hantu ini masih beredar dan kabarnya Noni kerap muncul di saat saat tertentu. Hal ini dirasakan oleh beberapa orang yang tersesat, terpisah dari rombongan, atau yang mengalami suatu kesulitan.

Mitos yang beredar cukup banyak, sehingga banyak versi pula yang berkembang. Salah satu cerita yang berkembang, yaitu Noni mencari pria yang mendai seorang diri. Gadis cantik keturunan Belanda ini akan mencelakai pria tersebut sebagai langkah balas dendamnya. Konon katanya, ia gantung diri karena sakit hati pada kekasihnya sehingga ingin mengobati sakitnya dengan cara yang cukup ekstrem tersebut.

BACA JUGA:  10 Tempat Wisata Terbaru di Sidrap yang Lagi Hits Dikunjungi

3. Kisah di Balik Nama Bawakaraeng

Kisah di Balik Nama Bawakaraeng

Image Credit: Correcto.id

Gunung yang memiliki ketinggian 2950 meter di atas permukaan laut ini jadi salah satu lokasi yang disakralkan oleh masyarakat setempat. Menurut bahasa sekitar, Bawa berarti mulut dan Karaeng berarti Raja. Kedua kata tersebut digabung maka akan memiliki makna Mulut Raja atau Mulut Tuhan. Asal usul ini diperkuat karena dulu gunung Bawakaraeng jadi tempat pertemuan para Wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Sulawesi Selatan.

Timbullah kepercayaan unik yang hingga saat ini masih dijaga oleh sebagian orang. Di tempat yang dianggap sakral ini masih banyak tradisi hingga ritual yang masih dilakukan. Sebagian orang masih melakukan shalat Idul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah dengan ritual yang dikenal ibadah Haji. Bedanya, masyarakat sekitar tidak menunaikan rukun Islam kelima di Makkah tetapi justru harus melakukan pendakian ke puncak Gunung Bawakaraeng.

Hal ini bermula dari perintah yang diberikan oleh Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, pemuka agama terkenal dari Gowa Talo. Perintah tersebut berbunyi bahwa masyarakat dianjurkan menunaikan ibadah Haji. Akan tetapi, justru disalahartikan bahwa Haji cukup di gunung ini sehingga Bawakaraeng bertindak sebagai representasi Mekkah bagi rakyat Sulawesi Selatan. Yang membedakan, yaitu tata cara serta urutan yang dilakukan selama ibadah.

Tata caranya cukup memanjatkan doa di tempat sakral yang dianggap sebagai Mulut Tuhan atau Sabda Tuhan. Masyarakat yang datang ke tempat ini hanya berharap keselamatan, rezeki, atau lainnya tanpa ada niat menunaikan ibadah Haji seperti seharusnya. Akan tetapi, mereka pun beranggapan bahwa telah beribadah sesuai rukun Islam kelima, meskipun tidak bisa membuktikannya. Yang menarik, mereka mengesampingkan tata cara wajib saat berhaji.

Ritual yang dilakukan setiap bulan Dzulhijjah ini sering kali disertai sesembahan, seperti sapi atau kambing hidup yang dibawa serta saat mendaki. Lalu hewan hewan ternak ini akan disemebelih selepas Shalat Idul Adha. Untuk ritual lainnya, mereka akan membawa suatu sesembahan yang berbeda yaitu songkolo, buras, daging ayam setelah diolah, telur, buah, atau daging kambing. Jenis jenisnya bisa disesuaikan dengan jenis hajat yang diadakan.

BACA JUGA:  16 Tempat Wisata di Jeneponto Terbaru & Paling Hits Dikunjungi

Pada zaman dulu, penganut kepercayaan ini menganggap bahwa fatwa yang diberikan oleh wali tersebut benar adanya. Terlebih belum ada teknologi atau ilmu pengetahuan yang lebih tinggi, sehingga masyarakat mempercayai tanpa pembuktian. Seiring berkembangnya zaman ternyata banyak yang sudah mulai meninggalkannya karena menyadari bahwa Haji Bawakaraeng ini salah. Bagi yang masih memegangnya erat dikarenakan menjaga ritual atau budaya tetap lestari.

4. Gunung Bawakaraeng Sumber Kehidupan

Gunung Bawakaraeng Sumber Kehidupan

Image Credit: Kurio.id

Bila sebelumnya membahas mengenai mitos yang bekembang di masyarakat, maka Anda belum mengetahui keberadaan gunung ini sangat penting. Bagi rakyat di Sulawesi Selatan, gunung Bawakaraeng ini memiliki makna yang dalam karena jadi sumber kehidupan yang utama. Pasalnya, kekayaan alam saut ini mampu memberikan kebutuhan air untuk seluruh rakyat di sekitarnya. Dengan begitu, rakyat tidak akan kekurangan air bersih.

Air bersih jadi salah satu sumber yang sangat dibutuhkan, sehingga tidak bisa membiarkan masyarakat kekeringan. Untuk Maros, Gowa, Takalar, Jenepont, Bulukumba, Sinjai, dan Bone tentu sudah jadi sumber air utama. Anda dapat memenuhi kebutuhan manusai sehari hari untuk mencuci, makan, mandi, dan lain sebagainya. Hal ini yang menyebabkan manusia tidka bisa lepas dari alam karena sebagai sumber kehidupan utamanya.

Yang tidak kalah menarik, tanah ini juga terkenal dengan hasil sawahnya yang melimpah. Tahukah Anda bahwa sumber pengairan untuk sawah ini berasal dari mata air gunung Bawakaraeng? Gunung ini mampu menjaga keseimbangan irigasi di sekitarnya, sehingga manusia bisa menghasilkan padi dan beras dengan maksimal. Sektor pangan masyarakat Sulawesi Selatan tak lagi kebingungan, sehingga keseimbangan alam ini harus tetap dijaga dengan baik.

Keindahan alam yang dimiliki oleh Indonesia cukup beragam, seperti gunung, pantai, waduk, dan lain lain. Beberapa jenis tersebut tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya Sulawesi Selatan. Bawakaraeng adalah salah satu gunung di daerah Sulsel yang menyimpan kisah mistis dan sederet kejadian yang di luar akal sehat. Akan tetapi, alam yang indah dan eksotis ini mampu menghipnotis dan membuat jatuh cinta siapa saja.