Walewangko – Fakta, Filosofi & Keunikan Rumah Adat Minahasa

Walewangko - Fakta, Filosofi & Keunikan Rumah Adat Minahasa

Setiap rumah adat memiliki desain yang khas dan unik dengan makna yang luhur. Hal tersebut tampak dari bangunan Walewangko, Rumah Adat Minahasa yang unik dan kaya akan makna.

Minahasa merupakan suku yang mendiami provinsi Sulawesi Utara. Mereka telah berada di wilayah tersebut sejak lama sehingga budaya dan adat istiadatnya sangat khas. Salah satunya yang menarik perhatian adalah Rumah Adat Minahasa.

Rumah tersebut memiliki desain panggung yang tampak tradisional tetapi mengandung makna dan filosofi yang mendalam. Selain itu, masyarakat zaman dulu membangun sebuah rumah tidak asal jadi. Mereka juga memikirkan beberapa aspek penting seperti desain, material, fungsi, dan keamanan. Desain yang ada sekarang mencerminkan bagaimana pola kehidupan dan budaya saat pertama kali rumah adat diciptakan.

Sebagai referensi, nama rumah adat dari suku Minahasa adalah Walewangko. Penggunaan nama juga memiliki arti sendiri sebagai manifestasi budaya dan prinsip hidup leluhur. Saat ini, masih banyak rumah tersebut di Sulawesi Utara dan sekitarnya dimana suku Minahasa tinggi.

Fakta Walewangko, Rumah Adat Minahasa

Rumah Adat Walewangko
Image Credit: Netralnews.com

1. Rumah untuk Keperluan Adat

Sesuai dengan namanya, rumah seperti ini secara khusus dibangun untuk kepentingan adat. Artinya, rumah sering menjadi tempat berkumpulnya keluarga, ritual budaya, dan apapun yang terkait dengan kegiatan adat Minahasa.

2. Desain Tradisional Panggung

Dari sisi desain, tampilan rumah adat Walewangko memang masih tradisional. Beberapa rumah bahkan masih asli yaitu belum ada semacam bahan besi dan lainnya sebagai penunjang. Mereka menggunakan material yang tersedia di alam yaitu kayu dan bambu.

Konsep desain yang digunakan adalah rumah panggung. Anda sering melihat gaya dan tampilan seperti ini pada beberapa rumah adat suku lain. Hal yang sama juga diterapkan suku Minahasa ketika mereka mulai mendiami suatu tempat. Rumah memiliki kolong di bagian bawah dan bangunan utama di lantai atas.

3. Rumah Keluarga

Rumah Walewangko tidak hanya untuk keperluan dan kepentingan adat. Masyarakat di Minahasa juga membuat rumah dengan desain sama yang dipakai sebagai rumah keluarga. Dari sisi luar, tampilannya masih sama yaitu panggung. Akan tetapi, perbedaannya ada pada bagian dalam.

Karena untuk tempat tinggal, rumah memiliki sekat dan lorong. Di bagian kanan dan kiri terdapat beberapa kamar serta ruang dapur dan makan di bagian belakang. Rumah ini mempunyai area yang luas jadi satu keluarga dan beberapa anggota tambahan lain dapat tinggal bersama.

4. Warisan Budaya

Fakta berikutnya adalah rumah adat tersebut menjadi warisan budaya yang masih dilestarikan hingga kini. Saat berkunjung ke Minahasa, rumah ini masih dalam keadaan bagus dan kokoh. Masyarakat menjaga konstruksi bangunan dan merawat semua bagian agar dapat dinikmati generasi penerus dan orang luar suku.

Keunikan yang Dimiliki Rumah Adat Minahasa

Keunikan yang Dimiliki Rumah Adat Minahasa
Image Credit: Adat-tradisional.blogspot.com

1. Tampilan Luar

Keunikan dari Rumah Adat Walewangko adalah tampilan luar berbentuk panggung. Sekilas, Anda mungkin berpikir desain ini tampak biasa. Namun, ukuran rumah lumayan besar serta memiliki teras yang mengarah langsung ke tangga di sisi kanan kiri. Atap yang dipakai tampak melebar hingga mencapai bagian belakang. Rumah ini bisa menampung beberapa anggota keluarga dan keperluan adat.

2. Bagian dalam Rumah

Bagian dalam menggunakan bahan kayu sebagai pilar dan anyaman bambu sebagai dinding. Rumah ini ada yang khusus adat sehingga terbagi menjadi tiga area. Bagian depan untuk upacara dan tengah sebagai tempat menerima tamu. Selanjutnya, area belakang sering digunakan untuk keperluan acara. Jika rumah adat tersebut adalah tempat tinggal keluarga,

Anda akan melihat semacam tambahan di bagian belakang. Ini merupakan tempat menyimpan barang, alat masak, hasil panen, dan apapun yang berguna untuk kehidupan. Karena tersambung secara langsung, Anda mungkin tidak mengira bahwa bagian tersebut merupakan area tersendiri.

3. Kolong Rumah

Rumah panggung memiliki kolong yang tepat berada di bagian bawah. Fungsi kolong mirip seperti gudang yaitu menyimpan alat tani, perkakas, dan hasil panen. Selain itu, masyarakat Minahasa memanfaatkan kolong untuk keperluan kandang hewan ternak. Karena posisinya berada di bawah, pemilik dapat mengawasi secara langsung.

4. Material

Rumah adat ini menggunakan material bangunan yang tersedia di alam. Sebagian besar komponen terbuat dari bambu dan kayu. Tiang kayu tersebut ditancapkan langsung ke dalam tanah yang cukup dalam agar kokoh. Selanjutnya, lantai atas segera dibuat lalu ditambah beberapa pilar lain yang nanti sebagai acuan dinding.

Bagian berikutnya adalah atap. Terakhir, bangunan segera dilengkapi dinding, sekat, dan bagian lain yang dibutuhkan. Rumah buatan terbaru atau hasil renovasi sudah menggunakan alat modern seperti paku dan lainnya. Selain itu, rumah tidak lagi diikat langsung ke pohon karena pondasi ditambahkan batu dan semen. Akan tetapi, desain dan tampilan masih tampak tradisional.

Filosofi yang Dimiliki Rumah Walewangko

Filosofi yang Dimiliki Rumah Walewangko
Image Credit: Tribunnews.com

1. Rumah Walewangko

Rumah ini bernama Walewangko yang berarti bale atau tempat istirahat. Arti tersebut meluas menjadi rumah sebagai hunian dan adat. Selain itu, istilah wengko juga terkait dengan kepemilikan rumah. Secara umum, satu rumah untuk satu keluarga lalu diwariskan secara turun temurun ke generasi berikutnya.

2. Model Rumah Panggung

Model panggung di rumah Minahasa memiliki makna tersendiri. Pada masa lalu, hutan masih lebat dan alam juga liar. Berbagai bahaya mengincar manusia seperti hewan buas, serangan suku lain, hujan, dan lainnya. Agar memberikan ketenangan dan rasa aman, rumah dibuat secara panggung.

Desain ini sering juga dihubungkan dengan filosofi kehidupan manusia. Mereka yang sudah mampu membuat rumah berarti derajatnya lebih baik. Bagian kolong merupakan tempat gudang dan kandang. Apapun yang berkaitan dengan kerja dan mencari nafkah sudah ada tempatnya. Rumah utama di bagian atas berfungsi untuk istirahat dan kegiatan adat.

3. Susunan Ruangan di Dalam Rumah

Rumah yang dipakai sebagai tempat tinggal berukuran besar sehingga bisa menampung beberapa anggota keluarga. Kamar di bagian depan akan ditempati kepala keluarga dan tetua. Anggota keluarga yang mudah akan menempati kamar selanjutnya hingga yang termuda berada di bagian terbelakang.

Susunan ini menunjukkan bahwa kehidupan memiliki tatanan sendiri. Orang muda harus menghormati yang tua. Disisi lain, tetua juga mengayomi dan memimpin yang muda karena selalu terdepan saat menghadapi masalah pelik.

4. Tangga di Depan Rumah

Yang unik dari rumah adat ini adalah tangga di bagian depan atas menyambung ke teras. Ada dua tangga yaitu bagian kiri dan kanan. Prinsipnya adalah datang dan pergi memakai jalur berbeda. Tamu dan leluhur yang bertamu wajib melalui tangga kiri ketika berkunjung lalu pulang melalui tangga kanan.

Filosofi lain adalah orang-orang yang tidak dikehendaki pulang dan pergi dari tangga yang sama. Prinsip ini sebenarnya berhubungan dengan kearifan lokal yaitu masalah ketika yang datang dan pergi menggunakan tangga yang sama. Mereka ingin mengatur pergerakan manusia agar lebih aman dan terkendali terutama saat sibuk upacara adat.

5. Kayu Tanpa Sambungan

Rumah yang masih tradisional menggunakan kayu besar sebagai tiang tanpa sambungan. Artinya adalah sebuah rumah menjadi simbol keluarga dan kehidupan. Pedoman untuk menjalankannya harus kokoh dan solid seperti tiang yang tidak pernah retak dan terpotong.

Proses Pembuatan Walewangko, Rumah Adat Minahasa

Proses Pembuatan Walewangko, Rumah Adat Minahasa
Image Credit: Twitter.com @KompasKlasika

1. Lokasi

Lokasi sangat penting saat membangun rumah. Bangunan ini cukup besar sehingga harus berada di area yang luas dan aman. Selain itu, Anda perlu mengecek akses di bagian depan dan situasi di area belakang.

2. Pondasi

Setelah lokasi, rumah membutuhkan pondasi. Di masa lalu, pondasi cukup menggunakan kayu yang ditanam ke dalam tanah. Saat ini, pondasi juga ditambah batu dan bahan bangunan lain agar kokoh. Pastikan kayu yang dipakai merupakan jenis yang kuat dan solid serta berusia tua sehingga mampu bertahan dalam jangka waktu lama.

3. Pilar atau Tiang

Rumah panggung membutuhkan tiang. Anda menggunakan dua tipe yaitu tiang utama dan penyangga. Setelah pondasi siap, konstruksi tiang utama segera diletakkan dan jumlahnya menyesuaikan dengan kebutuhan. Selanjutnya, bagian penyangga juga dipasang untuk menopang dinding dan sekat.

4. Dinding dan Lantai

Lantai rumah memakai bahan kayu yang disusun secara agar menutupi semua area. Selain kayu utuh, papan dan kayu sisa juga dapat dipakai. Untuk dinding, material kayu sangat dianjurkan tetapi bambu juga menjadi alternatif. Akan tetapi, bambu hanya untuk sekat di bagian dalam sedangkan dinding luar tetap memakai kayu.

5. Atap

Atap rumah menggunakan kayu dan bambu sebagai rangka serta tanaman kering pengganti genteng. Saat ini, penggunaanya sudah jarang karena terkait keamanan dan keselamatan. Akan tetapi, Anda bisa memakai genteng lalu dilapisi dengan rumbia dan sejenisnya sehingga berkesan alami.

6. Tangga

Bagian tangga Walewangko juga memakai bambu atau kayu tergantung ketersediaan. Karena tiang cukup tinggi, konstruksi tangga dibuat dengan dua bagian. Cara ini menghemat tempat serta lebih praktis. Tangga mengarah ke satu lokasi dan ukurannya masing-masing adalah sama.

Penjelasan mengenai Rumah Adat Minahasa diatas menunjukkan berguna bagi yang tertarik dengan desain dan bangunan tersebut. Rumah bukan sekedar konstruksi tanpa makna. Meskipun masih tradisional, hasil kerja para leluhur terbukti mampu bertahan hingga saat ini.