Rumah Adat Tambi – Fakta, Filosofi & Keunikannya

Rumah Adat Tambi - Fakta, Filosofi & Keunikannya

Rumah Adat Tambi di Sulawesi Tengah merupakan rumah adat Suku Lore berbentuk panggung yang berbentuk segitiga dimana bagian atapnya juga berfungsi sebagai dinding. Inilah fakta, filosofi makna dan keunikan Rumah Adat Tambi.

Sulawesi Tengah mempunyai keunikan tersendiri yang membuatnya beda dengan daerah yang lain. Salah satu keunikan yang menggambarkan ciri khas tersendiri daerah ini adalah rumah adatnya. Rumah adat antara satu daerah dengan daerah lainnya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga Indonesia sangat kaya akan keberagaman adat dan budayanya.

Rumah adat Tambi yang merupakan rumah adat daerah Sulawesi Tengah berbeda dalam segi bentuk atap, jumlah anak tangga, serta ukirannya. Rumah Tambi adalah rumah tradisional buatan dua suku asal Sulawesi Tengah yaitu suku Lore dan suku Kaili. Ciri khas unik rumah adat tersebut yakni berbentuk panggung dengan atap yang fungsinya sekaligus sebagai dinding.

Rumah adat ini berlokasi di daerah Lore yang mana masyarakat Lore merupakan kelompok masyarakat Toraja Timur. Masyarakat Lore sendiri merupakan suku bangsa yang disebut sebagai masyarakat Bada atau Napu. Mereka bertempat tinggal di dua kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Poso yakni Kecamatan Lore Selatan dan Lore Utara.

Fakta Menarik Rumah Adat Tambi

Fakta Menarik Rumah Adat Tambi

Image Credit: Facebook.com @VictoryTentena

Membangun rumah adat ini satu ini tidak boleh sembarangan. Faktanya, ada syarat utama yang harus dilakukan ketika membangun rumah adat tersebut yaitu posisi rumah harus menghadap ke arah selatan dan utara. Hal tersebut bertujuan supaya tidak membelakangi matahari saat terbit dan terbenam.

Meskipun berbeda dari segi bentuk atap, jumlah anak tangga serta ukirannya, rumah adat ini memiliki persamaan dengan rumah adat di Indonesia yang lainnya. Persamaannya adalah rumah untuk masyarakat umum dan bangsawan dibedakan. Rumah adat ini dihuni oleh masyarakat umum, sedangkan kaum bangsawan menghuni rumah adat Souraja.

Masyarakat umum yang tinggal di rumah adat tersebut adalah masyarakat suku Lore dan suku Kaili. Sehingga rumah adat Tambi tidak dihuni oleh kaum bangsawan melainkan hanya dihuni oleh masyarakat umum dari dua suku tersebut. Rumah adat untuk kaum bangsawan tidak sama dengan rumah adat untuk masyarakat umum.

Ukuran rumah adat ini tergolong sangat kecil karena secara umum hanya berukuran 7×5 meter persegi saja. Ukuran tersebut tentu sangat jauh berbeda dengan rumah adat lainnya yang ada di Indonesia. Ukurannya sangat kecil karena hanya berisi satu ruangan saja. Kamar tidur, dapur, dan lain sebagainya menjadi satu di ruangan tersebut.

BACA JUGA:  Pesona Keindahan Puncak Matantimali, Lokasi Paralayang Favorit di Sulteng

Ruangan tersebut biasa disebut sebagai ruangan utama oleh masyarakat yang tinggal disana. Sehingga segala aktivitas seperti tidur, memasak, hingga menerima tamu dilakukan di satu ruangan yang sama. Meskipun berukuran sangat kecil, namun mereka bisa melakukan segala aktivitas di rumah mereka.

Fakta lainnya adalah dengan ukurannya yang minimalis, rumah adat tersebut memang dibangun hanya untuk satu keluarga saja sehingga hanya dihuni oleh ayah, ibu, dan anak-anak. Jika ada anak yang menikah, maka anak tersebut akan membangun rumah baru yang berlokasi di sekitar rumah orang tuanya sehingga terbentuklah perkampungan.

Keunikan yang Dimiliki Rumah Adat Tambi

Keunikan Rumah Adat Tambi

Image Credit: Ruangarsitek.id

Rumah adat satu ini bisa dilihat perbedaannya dengan rumah adat daerah lain meskipun baru melihatnya sekali saja. Dengan ukuran yang kecil, rumah adat tersebut mempunyai keunikan yang tidak akan Anda temui di rumah adat lainnya. Keunikan tersebut membuat wisatawan luar daerah tertarik untuk mengunjungi Sulawesi Tengah.

1. Rumah Adat Berbentuk Panggung

Salah satu keunikan rumah adat ini adalah berbentuk panggung dengan struktur rumah yang tidak terlalu tinggi. Pondasi rumahnya berupa batu alam yang berbentuk persegi panjang yang bertujuan agar rumah tetap stabil. Terdapat juga sembilan penyangga kurang dari 1 meter yang saling ditempelkan menggunakan pasak balok kayu.

Selain penyangga, rumah adat tersebut mempunyai ciri khas yang unik dengan atap yang bentuknya menyerupai prisma. Sehingga dari luar hanya terlihat bagian atapnya saja. Atap bangunan serta material kayu tidak dihias dan dicat sehingga warna asli atap dan kayu terlihat begitu alami.

2. Hanya Memiliki Satu Ruangan Utama

Rumah adat ini hanya mempunyai satu ruangan utama yang disebut dengan lobona dan tanpa ada sekat antara dapur, ruang tidur hingga ruang tamu. Di bagian tengah lobona ada ruangan dapur atau rapu yang berfungsi untuk menghangatkan ruangan saat cuaca sedang dingin. Tempat tidurnya terbuat dari kulit kayu nunu atau beringin.

Meskipun ruangan utamanya luas, namun masyarakat suku Kaili yang melihat fungsi ruangan utama tersebut untuk melakukan segala aktivitas berinisiatif untuk melengkapi rumah adat tersebut dengan dua bangunan yang dinamakan Pointua dan Buho supaya masyarakat yang menghuni rumah tersebut lebih terjaga privasinya.

BACA JUGA:  Air Terjun Laumarang, Wisata Alam Tersembunyi Nan Eksotis di Luwuk

Pointnya adalah rumah khusus yang digunakan untuk menumbuk padi yang merupakan hasil panen mereka. Dengan adanya pointnya, maka terdapat Iso atau lesung untuk menumbuk padi yang terdapat di dalam rumah.

Sementara Buho adalah sebutan untuk bangunan dengan dua lantai di dalamnya dengan fungsi lantai bawah digunakan untuk tempat menerima tamu sedangkan lantai atas digunakan untuk tempat menumbuk lumbung padi.

3. Atap Rumah Berasal dari Ijuk atau Daun Rumbia

Sulawesi Tengah dikenal sebagai daerah penghasil ijuk dan daun rumbia sehingga kedua bahan tersebut sangat mudah didapatkan. Masyarakat setempat menggunakan ijuk dan daun rumbia untuk banyak hal, salah satunya adalah untuk bahan penutup atap rumah adat dan dibangun dengan kemiringan yang tinggi.

Atap Rumah Adat Tambi dibangun dengan kemiringan yang tinggi supaya air hujan bisa mengalir dengan lancar ke tanah. Dengan begitu, rumah akan terhindar dari kebocoran. Ijuk yang digunakan untuk bahan penutup atap berasal dari pohon nira yang dikumpulkan dari hutan

Ijuk yang telah didapatkan kemudian dirangkai dengan sangat teliti menjadi papan atap. Ijuk tersebut cukup tebal dan rapat sehingga air tidak dapat menembusnya. Atap yang dibuat dari ijuk bisa bertahan lama meskipun terkesan sangat tradisional. Ijuk juga berfungsi untuk melancarkan sirkulasi udara walaupun tidak ada jendela.

Sehingga ijuk tersebut dapat berguna untuk mendinginkan rumah karena udara dari luar dapat memasuki atap rumah dengan mudah. Keuntungannya, bagian dalam rumah menjadi terasa lebih dingin dan juga sejuk.

Ada juga masyarakat yang menggunakan daun rumbia untuk dijadikan bahan penutup atap rumah mereka. Daun rumbia tersebut mereka dapatkan dari pohon lontar dari daerah yang gersang karena pohon lontar banyak tumbuh di daerah itu. Daun rumbia disusun dengan sangat rapat kemudian dikeringkan dan dipasang di atap rumah.

4. Anak Tangga Dibuat dengan Jumlah Ganjil-Genap

Jumlah anak tangga dibedakan ganjil-genap disesuaikan dengan pemiliknya. Jumlah anak tangga dibuat ganjil apabila pemilik rumahnya adalah masyarakat umum dan dibuat genap apabila pemilik rumahnya adalah tetua adat. Dalam satu perkampungan hanya ada satu rumah tetua adat dengan jumlah anak tangga genap.

BACA JUGA:  Pesona Bendungan Misterius, Panorama Alam di Kaki Gunung Gawalise Sigi

Anak tangga tersebut terbuat dari daun bambu dan daun rumbia yang dibelah menjadi dua. Fungsi anak tangga adalah untuk naik ke dalam ruangan utama yang ada di rumah adat.

Filosofi dari Rumah Adat Tambi

Filosofi Rumah Adat Tambi

Image Credit: Mantabz.com

Karena masih kental dengan adat dan budayanya, maka rumah adat yang berada di Sulawesi Tengah ini mempunyai makna-makna filosofis seperti :

1. Perpaduan Dua Garis Dalam Sebuah Prisma

Ada dua garis yang dipadukan dalam rumah adat ini yaitu garis horizontal dan garis vertikal. Garis horizontal merupakan dasar atau alas dari segitiga yang bermakna sebagai lambang dari hubungan antara manusia dengan manusia lainnya.

Garis vertikal berada di ujung dari 2 garis horizontal yang merupakan kaki dari segitiga yang bermakna sebagai hubungan antara manusia dengan Penciptanya. Garis vertikal ini adalah wujud dari atap bangunan rumah adat tersebut.

2. Terdapat Hiasan Ornamen di Rumah Adat

Beberapa rumah adat dilengkapi dengan hiasan ornamen atau corak yang berbentuk hewan ternak seperti kerbau, babi, atau ayam. Ornamen tersebut merupakan lambang dari kesejahteraan dan kesuburan manusia. Bentuk ornamen adalah ukiran berbentuk babi atau ayam (ukiran bati) dan kepala kerbau (pebaula).

3. Ujung Atap Terdapat Tanduk Binatang

Rumah adat ini dilengkapi dengan adanya sebuah tanduk kerbau atau tanduk sapi yang telah dikeringkan dan berada di ujung atap rumah, dikenal dengan sebutan pebaula. Bagi mereka, pebaula merupakan simbol pengorbanan dan kesejahteraan manusia kepada Sang Pencipta.

4. Posisi Rumah Menghadap Utara dan Selatan

Rumah adat khas Sulawesi Tengah tersebut ketika dibangun harus menghadap ke arah utara dan selatan supaya tidak membelakangi matahari ketika terbit maupun terbenam. Hal tersebut merupakan keharusan karena konon jika ada yang melanggarnya maka akan mendapatkan petaka.

Rumah adat ini merupakan salah satu bukti kekayaan Indonesia atas beragam adat dan budaya yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Bentuk asli rumah adat ini bisa Anda lihat di kawasan wilayah Doda, Sulawesi Tengah karena di wilayah tersebut terdapat cagar budaya berupa satu kompleks rumah adat Tambi yang tetap dilestarikan hingga saat ini.