Rumah Adat Suku Kaili – Fakta, Filosofi & Keunikannya

Rumah Adat Suku Kaili - Fakta, Filosofi & Keunikannya

Suku Kaili di Sulawesi Tengah memiliki rumah adat yang digolongkan berdasarkan status sosial masyarakatnya, yaitu Rumah Tambi dan Souraja.

Sudah bukan hal baru jika Indonesia memiliki jumlah rumah adat yang bermacam-macam karena sukunya beragam pula. Salah satunya rumah adat milik suku Kaili yang berada di Sulawesi Tengah. Terdapat dua jenis rumah adat milik suku Kaili yang dibedakan dengan status sosialnya.

Jenis pertama yakni rumah adat Souraja yang merupakan hunian khusus para bangsawan dan raja. Sedangkan rumah adat kedua bernama Tambi yang dijadikan tempat tinggal oleh masyarakat biasa atau penduduk umum. Kedua jenis rumah adat tersebut sebenarnya tak jauh berbeda mulai dari bahan, filosofi dan serta fungsinya. Namun, yang membedakan keduanya dari segi bentuk bangunannya,

Hingga saat ini, rumah adat Kaili masih terjaga dengan baik dan bentuk bangunan masih tetap seperti yang seharusnya. Bagi Anda yang tertarik dengan rumah adat milik suku Kaili, simak ulasan berikut ini.

Fakta Rumah Adat Kaili

Rumah Adat Tambi Sulawesi Tengah

Image Credit by Celticstown.com

1. Rumah Souraja

Rumah adat Souraja pertama dibangun oleh Raja Yodjokodi di tahun 1892. Jika diartikan Souraja berarti rumah besar. Seperti maknanya rumah tersebut cukup besar karena digunakan sebagai tempat tinggal para Raja adan keluarganya sehingga yang tinggal di tempat ini bukan sembarang orang.

Namun jika raja telah lengser atau tidak menjabat lagi, maka tidak lagi menempati dan harus meninggalkan rumah Souraja. Apabila diartikan, rumah Souraja ini mirip dengan rumah dinas pada jaman dahulu.

Pada tahun 1942 sampai 1945 tepatnya ketika tentara Jepang menduduki dan menguasai Palu, rumah adat ini digunakan sebagai pusat pemerintahan. Namun pada tahun 1958, tempat tersebut diambil alih oleh tentara Republik Indonesia sebagai markas operasi militer yang akan menuntaskan pemberontakan Sulawesi Tengah bernama Permesta.

2. Rumah Tambi

Rumah tambi merupakan rumah panggung sederhana yang pendek. Rumah ini sebenarnya juga diakui sebagai rumah adat suku Lore. Jika pada suku Kaili rumah ini untuk penduduk biasa, namun di suku Lore bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal para ketua atau kepala adat.

Keunikan Rumah Adat Suku Kaili

Image Credit by Alcop.blogspot.com

1. Keunikan yang Dimiliki Rumah Souraja

Rumah Souraja juga biasa disebut Banua Oge dimana struktur bangunan menggunakan perpaduan antara arsitektur suku Bugis dan Kaili. Selain sebagai tempat tinggal raja, rumah ini juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.

BACA JUGA:  2 Rumah Adat Khas Sulawesi Tengah

Bangunan rumah adat Souraja terbuat kayu dan berbentuk panggung. Sedangkan atapnya berbentuk segitiga memanjang hingga ke belakang. Uniknya pada bagian atap baik depan maupun belakang yang berbuat dari papan dihiasi oleh ukiran. Hiasan tersebut biasa disebut dengan panapiri.

Terdapat bangko-bangko pada bagian depan dan belakang bubungan rumah. Bangko-bangko sendiri adalah hiasan dari mahkota yang diukir.

Luas bangunan rumah adat secara keseluruhan sekitar 32 m X 11,5 m. Setidaknya terdapat 28 tiang dari kayu yang menyangga bangunan induk dan 8 tiang pada bagian belakang yang berguna sebagai dapur.

Rumah ini terdiri dari 4 ruangan besar yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Setiap ruangan memiliki istilah, filosofi dan kegunaan yang berbeda-beda.

2. Keunikan dari Rumah Tambi

Rumah Tambi digunakan sebagai rumah adat untuk dua suku yakni Kaili dan Lore. Yang membedakan rumah tersebut untuk setiap suku yaitu jumlah anak tangga. Pada rumah tambi suku Kaili, jumlah anak tangga untuk masuk ke rumah berjumlah genap, sedangkan pada suku Lore anak tangga berjumlah ganjil.

Tak jauh berbeda dengan Souraja, Tambi juga berupa rumah panggung hanya saja tiang penyangganya lebih pendek kira-kira kurang dari satu meter. Selain itu, tiang juga terbuat dari kayu botani yang kokoh.

Rumah tambi ukurannya lebih kecil dari Souraja sehingga tiang penyangga yang dibutuhkan juga lebih sedikit. Terdapat 9 tiang penyangga yang digunakan sebagai tumpuan untuk menyangga papan lantai.

Uniknya rumah tambi yaitu hanya memiliki satu ruangan saja dalam rumah. Namun, ruangan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti menerima tamu, berkumpul keluarga, tidur dan lainnya.

Untuk menambah ruangan dan menunjang kegiatan, terdapat ruangan terpisah dengan rumah induk yang bernama Buho/Gampiri dan Pointua. Kedua ruangan tersebut dibangun berdekatan dengan rumah induk.

Buho/gampiri merupakan bagunan yang tak jauh berbeda dengan rumah utama, hanya saja memiliki 2 lantai. Lantai dasar adalah ruangan untuk terima tamu dan lantai 2 sebagai lumbung atau tempat padi.

Pointua merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat menumbuk padi yang sebelumnya disimpan di Buho. Di dalam Ponitua terdapat lesung bernama Iso yang digunakan sebagai wadah menumbuk padi. Iso tersebut memiliki tiang penyangga sebanyak 4 buah.

BACA JUGA:  15 Tempat Wisata di Palu Terbaru & Lagi Hits Dikunjungi

Atap rumah Tambi sangat tinggi karena bentuk atapnya menyerupai prisma dan bagian paling atas mengerucut atau mengecil. Bagian atap tersebut cukup panjang hingga ke bawah sehingga nampak menutupi rumah. Atap terbuat dari ijuk sehingga terlihat sederhana.

Konon jika ingin membangun rumah Tambi harus memenuhi syarat yakni bangunan menghadap ke utara atau selatan. Tidak boleh menghadap ke barat atau timur karena dianggap membelakangi matahari.

Filosofi Menarik Rumah Adat Kaili

Filosofi Menarik Rumah Adat Kaili

Image Credit: Grid.id

1. Rumah Adat Souraja

Ruangan rumah adat Souraja terbagi menjadi 4 bagian yang memiliki fungsi berbeda-beda. Beberapa bagian ruangan tersebut yakni sebagai berikut:

  • Lonta Karvana

Lonta Karvana adalah bagian pertama setelah teras atau serambi rumah. Bagian rumah ini berfungsi sebagai ruang tamu. Jangan heran kalau memasuki rumah adat Souraja hanya menemukan tikar, karena dulu tidak ada meja dan kursi.

  • Lonta Tatangana

Ruang tengah rumah Souraja atau para suku Kaili menyebutnya sebagai Lonta tatangana. Ruang tengah ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan ruang sebelumnya yakni untuk menerima tamu. Hanya saja tamu yang berada di ruangan ini statusnya masih kerabat atau memiliki hubungan keluarga dengan pemilik rumah.

  • Lonta Rarana

Ruang belakang atau lonta rarana biasa digunakan sebagai tempat makan. Di sudut belakang ruang ini biasanya digunakan untuk kamar tidur anak perempuan yang masih gadis.

  • Avu

Ketika ruangan yang telaah disebutkan di atas terletak di bangunan induk. Sedangkan avu atau dapur berada di bangunan yang terpisah namun masih satu kawasan sehingga jika ingin ke dapur harus melewati jembatan penghubung kedua bangunan atau biasa di sebut dengan jongke terlebih dahulu.

  • Ukiran

Pada rumah Souraja tedapat banyak ukiran mulia dari atap, dinding, jendela dengan berbagai motif. Ukiran tersebut melambangkan kemuliaan, kesuburan, kesejahteraan dan ramah tamah.

2. Rumah Adat Tambi

  • Bentuk Rumah

Jika dilihat lebih teliti rumah adat Kaili ini berbentuk segitiga, dimana menggabungkan garis vertikal dan horizontal yang saling menyatu. Garis horizontal melambangkan hubungan antar sesama manusia dan vertikal melambangkan hubungan antara manusia dan Penciptanya.

  • Ukiran
BACA JUGA:  Pesona Keindahan Puncak Matantimali, Lokasi Paralayang Favorit di Sulteng

Tak jauh berbeda dengan rumah Souraja, rumah ini juga memiliki beragam ukiran di berbagai bagian rumah dengan macam-macam motif seperti babi, kerbau dan ayam. Motif ukiran tersebut memiliki arti yang sama seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Kepala Kerbau Dalam Ruangan

Kepala kerbau atau Pebaula merupakan hiasan yang sering ditemukan di rumah adat Kaili. Pebaula ini biasa berada di bagian depan atap rumah atau ruang tamu. Keberadaan kepala kerbau ini sebagai simbol kekuasaan serta kekayaan sang tuan rumah.

Cara Membuat Rumah Adat Kaili

Cara Membuat Rumah Adat Kaili

Image Credit: Oseaka.blogspot.com

Sebenarnya tak ada bedanya cara membangun kedua rumah adat tersebut karena sama-sama terbuat dari kayu dan ijuk atau seng sebagai atapnya. Hanya saja pada pembangunan rumah adat Souraja, pembangunan diukur dari depa Raja, Ratu serta pengukuran dari tukang kayu atau pande. Keutamaan membangun rumah adat Kaili yaitu gotong royong dan saling tolong menolong.

Pondasi yang digunakan pada rumah adat Kaili ini dari batu alam karena memiliki sifat yang keras dan kuat. Kemudian sebagai tumpuan menggunakan balok yang telah disusun agar pas dan kuat menahan beban ketika dipasangkan tiang.

Bangunan rumah adat baik Souraja maupun Tambi menggunakan tiang yang dipasang pasak balok berbahan kayu. Tiang-tiang tersebut digunakan untuk menahan atau menyangga atap dan lantai rumah dengan tinggi yang berbeda, untuk tambi jarak antara tanah dan rumah kurang datu meter sementara Souraja lebih tinggi.

Tidak jauh berbeda dengan tiang, lantai rumah terbuat dari papan kayu yang disusun rapat sesuai luas ruangan masing-masing rumah. Untuk rumah Souraja yang memiliki teras atau serambi maka tangganya berhadapan di sisi kanan dan kiri. Sedangkan untuk rumah tambi yang tidak memiliki teras hanya memiliki satu tangga dengan jumlah genap.

Dan bagian atap kedua rumah adat tersebut memiliki kemiripan yakni berbentuk segitiga dari ijuk. Namun untuk rumah Souraja bagian atapnya tidak menutupi bagian rumah dan terdapat tambahan atap untuk bagian teras. Selain ijuk, atap rumah Souraja juga bisa menggunakan seng atau bahan lainnya selain ijuk.

Demikian informasi mengenai rumah adat Kaili yang terdapat di Sulawesi Tengah. Kedua rumah adat tersebut patut dijaga agar sejarah dan nilai-nilai leluhur tetap lestari hingga ke generasi berikutnya.