6 Pakaian Adat Papua & Keunikannya

Pakaian Adat Papua

Pakaian adat Papua merupakan salah satu bukti keberagaman adat dan budaya di Indonesia. Baju adat tradisional Papua bukan hanya Koteka, masih banyak jenis pakaian unik yang digunakan masyarakat.

Indonesia, mempunyai beragam adat serta budaya dari Sabang hingga Merauke. Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dengan pakaian adatnya yang berbeda dari daerah lainnya. Salah satu daerah yang memiliki ciri khas pakaian adat yang unik dan lain daripada daerah lain adalah Papua. Di Papua, terdapat 6 pakaian adat Papua yang disesuaikan dengan kegiatan masyarakatnya.

Pakaian adat di Papua sangat populer di Indonesia maupun luar negeri karena keunikan yang dimilikinya. Pakaian adat ini menggambarkan ciri khas kebudayaan daerahnya. Salah satu ciri kebudayaan di daerah Papua tersebut masih melekat erat dalam kehidupan masyarakatnya tanpa adanya kontaminasi dengan peradaban jaman yang semakin lama semakin maju.

Bahkan, keunikan baju adat Papua ini memberikan daya tarik tersendiri sehingga kerap digunakan oleh para menteri dan orang penting lainnya ketika acara pengibaran Bendera Merah Putih di Istana Merdeka Jakarta setiap tanggal 17 Agustus. Pakaian adat tersebut merupakan warisan leluhur sehingga harus tetap dijaga kelestariannya sampai kapanpun.

1. Baju Kain Rumput

Baju Kain Rumput
Image Credit: Twitter.com @detikcom

Pakaian adat ini merupakan salah satu pakaian yang sudah mendapatkan sentuhan modern. Berasal dari suku Papua modern yakni Sorong Selatan. Pria maupun wanita bisa memakai pakaian ini. Bahan dasar pembuatannya pun termasuk unik karena pakaian adat ini terbuat bagian pucuk dari daun sagu yang telah melalui proses pengeringan.

Cara membuatnya cukup rumit karena ada syarat yang harus dipenuhi yaitu pengambilan daun sagu harus ketika air laut sedang pasang. Kemudian, daun sagu yang didapatkan harus melalui proses pengeringan dan juga perendaman dalam sebelum daun sagu tersebut dianyam dengan cara manual. Menganyamnya pun menggunakan bahan kayu berukuran satu meter.

Fungsi bahan kayu tersebut adalah untuk mengaitkan bagian ujung tali. Selesai dianyam, rumput yang sudah kering kemudian dipilin menjadi satu. Rumput yang dipilin tersebut berguna sebagai tali pinggang. Pembuatan tali pinggang harus dibuat minimal dua kali atau lebih sesuai dengan keinginan. Meskipun rumit, namun pakaian tradisional ini cukup unik.

2. Pakaian Adat Yokal

Pakaian Adat Yokal
Image Credit: Bukalapak.com

Pakaian adat ini biasanya dikenakan oleh masyarakat Papua Barat dan sekitarnya. Pakaian ini khusus dikenakan oleh para wanita yang sudah berkeluarga atau sudah menikah. Pakaian adat dengan warna khas coklat kemerahan ini dapat ditemukan di daerah pedalaman Papua. Disebut Yokal dan menjadi simbol bahwa masyarakat Papua memiliki kedekatan dengan alam.

Pakaian adat Yokal ini digunakan oleh masyarakat Papua ketika beraktivitas sehari-hari maupun saat ada festival budaya atau acara adat. Seiring berkembangnya jaman, Sebagian masyarakat Papua yang sudah menikah tidak mengenakan pakaian adat ini untuk sehari-hari, melainkan menggunakan rok modern yang dibeli di pasar.

Yokal merupakan baju adat Papua yang dilengkapi dengan berbagai aksesoris yang begitu khas, seperti rumbai kepala, taring babi dan gigi anjing, serta tas noken. Tas noken merupakan tas anyaman kulit kayu yang untuk penyimpanan hasil buruan seperti tikus, burung dan kelinci serta sayur-sayuran, umbi-umbian, dan buah-buahan.

3. Pakaian Adat Sali

Image Credit: Twitter.com @nomadxland

Jika pakaian adat Yokal duperuntukan bagi kaum wanita yang sudah berkeluarga atau sudah menikah, maka pakaian adat Sali diperuntukkan untuk perempuan yang masih lajang atau belum menikah. Bahan dasar pembuatan pakaian ini adalah dari kulit pohon dan dapat dikenakan sehari-hari oleh para perempuan yang masih lajang.

Pakaian adat Sali yang merupakan busana yang dibuat dari kulit pohon yang tidak sembarangan. Kulit pohon yang dipilih harus berwarna cokelat supaya pakaian adat yang dihasilkan terlihat sempurna, bagus dan menarik. Wanita yang sudah meninggalkan masa lajang atau sudah menikah tidak diperkenankan mengenakan pakaian adat Sali ini lagi.

4. Baju Kurung

Baju Kurung
Image Credit: Limapagi.com

Pakaian ini merupakan pakaian yang telah dipengaruhi oleh budaya luar. Biasanya pakaian ini digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Manokwari dan sekitarnya. Tidak hanya masyarakat Manokwari dan sekitarnya, namun masyarakat Papua Barat juga mengenakannya untuk kegiatan adat. Pakaian adat baju kurung diperuntukkan untuk wanita saja.

Baju tradisional ini terdiri dari atasan baju yang dibuat dari kain beludru dengan dipadukan rok rumbai. Supaya lebih lengkap, wanita yang mengenakan pakaian adat ini juga menggunakan hiasan rumbai bulu yang dikenakan pada pinggang, tepi leher, dan juga lengan. Selain itu, aksesoris kalung dan gelang dari biji-bijian keras menyempurnakannya.

Biji-bijian keras yang digunakan untuk kalung dan gelang dirangkai dengan benang sehingga mudah dipakai dan terlihat unik. Penampilan wanita yang mengenakan pakaian adat ini semakin terlihat menarik ketika mereka menggunakan penutup kepala yang terbuat dari bulu burung kasuari.

5. Rok Rumbai

Rok Rumbai
Image Credit: Twitter.com @skletnz

Rok rumbai dibuat dari daun sagu kering yang disusun dan berguna sebagai penutup bagian bawah tubuh. Biasanya rok rumbai ini dikenakan oleh wanita, namun boleh juga dikenakan oleh pria. Walaupun boleh dikenakan oleh wanita maupun pria, namun penggunaan jenis pakaian adat ini mempunyai perbedaan dalam cara mengenakannya.

Pria yang menggunakan rok rumbai tidak memakai atasan baju kurung seperti yang dikenakan oleh para wanita. Namun, ketika pria mengenakan koteka, maka para wanita memakai rok rumbai dan tidak menggunakan baju atasan, sama seperti pria. Bagian atas tubuh mereka disamarkan dengan tato atau lukisan dari tinta alami bergambar flora dan fauna.

Pakaian adat ini biasanya difungsikan oleh wanita yang tinggal di pedalaman pegunungan tengah dan pesisir pantai sebagai rok. Ada beberapa kelompok etnis yang menggunakan rok rumbai antara lain Yapen, Enjros, Biak Numfor, Nafri, Tobati, dan Sentani. Cara menggunakan rok rumbai adalah dengan cara dililitkan ke pinggang dan diikat menggunakan simpul.

Biasanya rok rumbai terbuat dari daun sagu yang diambil dari hutan. Daun sagu tersebut dipotong lalu dijemur di bawah sinar matahari sampai mengering maupun warnanya berubah menjadi putih. Daun sagu yang telah dikeringkan itulah yang digunakan untuk membuat pakaian adat rok rumbai. Kemudian daun sagu dianyam hingga membentuk Ramn.

6. Holim atau Koteka

Holim atau Koteka
Image Credit: Bukalapak.com

Pakaian adat Papua satu ini memiliki sebutan nama lain seperti bobbe, hilon, maupun harim tergantung dengan daerahnya. Pakaian adat yang khusus diperuntukkan untuk pria ini terlihat cukup nyentrik. Faktanya, pakaian ini merupakan pakaian tradisional yang berfungsi sebagai penutup bagian kemaluan pria. Bagian tubuh yang lain tidak ditutup sehingga nyaris telanjang.

Di dalam sebuah buku karya Tiarma Rita Siregar dan Muhammad Husni berjudul Perhiasan Tradisional Indonesia tahun 2000 menyatakan bahwa holim atau koteka merupakan pakaian tradisional yang unik untuk para pria dan terbuat dari kalabasah atau labu cina dengan bentuk yang runcing. Di bagian ujungnya diberi hiasan bulu ayam hutan atau bulu burung.

Hiasan tersebut memiliki fungsi untuk menutupi alat kelamin. Agar koteka tidak jatuh saat digunakan, maka teknik memakainya adalah diikatkan ke sekitar pinggang dengan menggunakan tali halus yang berwarna hitam. Jenis ukuran koteka bermacam-macam, disesuaikan dengan ukuran fisik pemakainya. Aksesorisnya juga disesuaikan dengan tubuh.

Baju adat ini dibuat dari bahan kulit labu air dengan membuang bagian daging buah dan bijinya terlebih dahulu. Biasanya pemilihan labu air adalah yang sudah tua karena memiliki tekstur yang lebih awet dan keras setelah proses pengeringan. Ketika kulit labu air sudah kering, kemudian koteka digunakan dengan mengaitkannya di pinggang ke atas.

Penggunaan koteka mempunyai makna tertentu yakni apabila kedudukan pria semakin tinggi secara adat maka koteka yang digunakan juga ukurannya semakin besar. Biasanya pakaian adat ini dikenakan oleh suku Dani. Selain suku Dani, suku lainnya di Papua juga mengenakan koteka namun dengan versi mereka masing-masing.

Salah satu versi koteka ala suku Tiom adalah menggunakan labu air berjumlah dua buah sekaligus dan dikenakan dengan mengikatkan ke pinggang mengarah ke atas dengan menggunakan tali. Semakin berkembangnya jaman, pakaian adat tradisional khas Papua ini sudah jarang digunakan dan dialihfungsikan sebagai buah tangan untuk para wisatawan asing.

Bentuk koteka adalah seperti selongsong panjang dengan ukuran yang bervariasi. Ukuran koteka berdasarkan tujuan penggunaannya. Jenis pakaian adat ini menggunakan ukuran yang lebih kecil jika tujuannya digunakan ketika bekerja maupun digunakan untuk pakaian sehari-hari. Ukuran lebih besar jika digunakan untuk acara adat.

Setiap suku juga mempunyai ukuran dan bentuk koteka yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan satu labu air, dan ada juga yang menggunakan dua labu air sekaligus. Seperti contohnya pakaian adat koteka yang digunakan suku Dani terlihat lebih vulgar karena yang ditutupi hanya bagian kemaluan saja. Namun suku Yali menutupi bagian perut hingga paha.

Koteka menjadi sebuah hal yang penting untuk kehidupan sehari-hari suku bangsa yang tinggal di wilayah ekologis dalam pegunungan tengah. Koteka mengandung nilai kehidupan yang baik seperti nilai kebanggaan, penutup aurat, kebesaran, kebersamaan, hingga kepemimpinan. Pria yang gagah dan berwibawa menggunakan koteka dengan memegang busur dan panah.

Koteka dapat digunakan dengan tiga cara yang disesuaikan dengan keadaan diri masing-masing masyarakat Papua. Keturunan bangsawan dan belum menikah berbeda caranya. Cara pertama yakni digunakan secara tegak lurus yang melambangkan bahwa yang menggunakan masih perjaka dan merupakan pria sejati, belum pernah melakukan hubungan seks.

Cara kedua adalah digunakan miring ke kiri yang melambangkan bahwa yang menggunakan adalah seorang pria dewasa dari golongan menengah dan menunjukkan bahwa pria tersebut adalah apendugogar atau keturunan panglima perang. Cara ketiga ialah miring ke kanan sebagai lambang kejantanan pria yang berstatus sosial bangsawan dan tinggi.

Itulah beberapa pakaian adat tradisional Papua yang menjadi salah satu bukti keberagaman adat dan budaya yang ada di negeri Indonesia. Meskipun setiap daerah memiliki pakaian adat yang berbeda-beda, namun semua lapisan masyarakat mulai dari Sabang sampai Merauke merupakan satu kesatuan yang saling menghormati dan bersatu karena masih dalam satu negara Indonesia yang adil dan juga makmur.