4 Makanan Khas Suku Asmat yang Wajib Anda Coba

Makanan Khas Suku Asmat

Bumi cenderawasih banyak dihuni oleh Suku Asmat. Inilah deretan makan khas Suku Asmat yang dapat Anda coba untuk hidangan yang lezat dan menggugah selera.

Setiap suku di Indonesia memiliki minimal satu makanan khas yang tidak dimiliki suku lain. Makanan-makanan tersebut terdiri dari berbagai rasa utama seperti manis, asin, asam, pedas, dan pahit. Di provinsi Papua, mayoritas penduduknya dihuni oleh Suku Asmat. Sedangkan Suku Asmat dibagi menjadi dua yakni suku yang hidup di pesisir dan yang hidup di pedalaman.

Hampir seluruh penduduk Suku Asmat yang hidup di pesisir bekerja sebagai nelayan. Dan sagu menjadi makanan utama suku tersebut. Dari sagu tersebut, terciptalah berbagai makanan khas unik yang patut untuk dijajal.

Suku Asmat terkenal pula dengan cendera matanya berupa kerajinan kayu. Bila berkunjung ke Papua, pastikan Anda mencoba semua kuliner khasnya. Tidak banyak kok, hanya empat saja. Bagus kan untuk mengetahui apa saja makanan khasnya sebelum sampai di tanah tersebut. Simak daftar makanan khas Suku Asmat yang menarik untuk dicoba saat berkunjung.

1. Sate Ulat Sagu

Sate Ulat Sagu
Image Credit: Twitter.com @alyssaaja

Suku Asmat terbiasa memakan sate ulat sagu yang diolah dengan cara dibakar. Ulat sagu sendiri didapat dari batang pohon sagu yang menjadi tempat hidupnya. Batang pohon sagu yang banyak dihuni oleh ulat sagu adalah batang yang sudah membusuk. Hal ini karena ulat sagu menghisap habis nutrisi pohon sagu untuk bertahan hidup.

Masyarakat Suku Asmat mengolah kuliner ini dengan cara membungkus ulat sagu ke dalam daun nipah. Setelah itu, ditaburi dengan sagu dan dipanggang.

Anda yang ingin membuat sate ulat sagu dapat mencoba resep berikut. Bahan yang perlu disiapkan yakni perasan jeruk nipis, tusuk sate, dan ulat sagu. Lalu, mulai membilas ulat sagu segar dengan air jernih. Setelah itu, rendam dalam perasan air jeruk nipis hingga badan ulat terbasahi oleh air jeruk. Kemudian, ambil beberapa ulat sagu untuk kemudian ditusuk dengan tusuk sate.

Bakar sate ulat menggunakan arang atau wajan panggangan. Bolak-balik sate ulatnya agar tidak gosong. Bila sudah berwarna keemasan, sate ulat sagu sudah bisa dimakan. Jika ingin lebih berasa, Anda bisa membuat sambal kecap atau saus cocol untuk dioleskan pada badan sate yang setengah matang atau dijadikan cocolan saja.

Wangi dari sate ulat sagu sangat menggoda. Kala dibakar, ulat mengeluarkan cairan kuning yang membuatnya menjadi tampak besar. Rasanya menjadi sangat gurih bila dibanding mengonsumsi ulat sagu yang masih hidup.

Ukuran dari ulat ini sebesar ibu jari pria dewasa. Jadi Anda akan cepat merasa kenyang saat mencoba kuliner ini. Serta bila Anda agak takut memakan sate ulat ini, pisahkan badan ulat dengan kepalanya karena kepala ulat sagu terasa keras. Cobalah untuk mencicip kuliner wajib ini meskipun harus dengan menutup mata atau menahan tangis karena memori ini akan menjadi pengalaman berharga dan sangat berkesan.

2. Aunu Senebre

Aunu Senebre
Image Credit: Cookpad.com

Aunu senebre masuk ke dalam daftar makanan khas Suku Asmat selanjutnya. Mendengar dari namanya saja, pasti Anda tidak tahu kuliner apakah ini. Namanya saja terdengar asing. Sebenarnya, aunu senebre merupakan teri putih. Wah, sudah mulai tergambar kan bila dibayangkan?

Kuliner ini seringnya dimakan bersama dengan papeda. Tidak pernah ketinggalan yah papeda ini? Selain itu, aunu senebre juga pernah masuk dalam nominasi makanan terpopuler di tahun 2017. Keren bukan meskipun belum sepopuler papeda?

Aunu senebre ini memiliki rasa yang gurih karena melalui proses penggorengan. Selain itu, bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya sama seperti bahan membuat sup. Lebih jelasnya, simak resep aunu senebre berikut.

Bahan yang harus sudah disiapkan yakni seratus gram teri putih, seratus gram parutan kelapa, selembar daun talas beserta batangnya, dan satu sendok teh garam. Langkah dimulai dengan mencuci seluruh teri putih hingga tidak ada kotoran. Lalu, digoreng dan ditiriskan. Kemudian, memotong batang dan daun talas tipis. Rebus sampai daun layu lalu matikan api kompor dan angkat.

Gorengan teri putih, rebusan talas, garam, dan parutan kelapa dicampur hingga rata. Lalu, dikukus selama kurang lebih setengah jam dalam api sedang. Bila setengah jam sudah terlewati, selamat! Aunu senebre sudah bisa dinikmati! Bila Anda tidak memiliki papeda, Anda juga bisa menyantap kuliner ini bebarengan dengan umbi rebus.

3. Sagu Lempeng

Sagu Lempeng
Image Credit: Twitter.com @avankies21

Setelah menyimak kedua kuliner di atas, tampaknya Anda butuh penyegaran dengan ulasan kuliner manis. Yaitu sagu lempeng. Dari namanya saja sudah tergambar bahwa kuliner kali ini memiliki bentuk lempengan. Yups, itu benar!

Sagu lempeng memiliki rasa yang manis ketika sampai di atas lidah. Camilan ini biasa disajikan dalam bentuk pipih atau batangan panjang berwarna cokelat. Rasanya yang manis, enak untuk dimakan bersama secangkir minuman teh dan kopi di waktu senja. Camilan ini termasuk makanan ringan favorit warga Suku Asmat.

Proses pembuatan sagu lempeng ini dimulai dari mengayak tepung sagu hingga tersaring butiran tepung yang halus saja. Lalu, putuskan ingin memakai kelapa parut atau gula merah sebagai tambahan. Bila Anda memilih memakai kelapa parut, Anda akan mendapatkan sagu lempeng yang dominan gurih. Bila Anda memilih memakai gula merah, Anda akan mendapatkan sagu lempeng yang dominan manis.

Atau bisa juga Anda mencampur kedua bahan pelengkap tersebut. Lalu, dibakar di cetakan tanah liat selama tiga puluh hingga enam puluh menit. Ada juga yang membakarnya menggunakan besi. Mereka yang memilih membakar menggunakan tanah liat memiliki kelebihan dari segi kematangan dan mereka yang memilih membakar menggunakan besi memiliki kelebihan dari segi waktu.

Saat sudah matang, Anda akan mengakui bahwa camilan ini bertekstur keras. Meski begitu, camilan ini yang paling tahan lama dari kesemua daftar kuliner khas ini. Dengan begitu, Anda bisa membawa beberapa toples camilan ini untuk dijadikan buah tangan di rumah.

Tingkat kegelapan warna pada sagu lempeng bisa dibedakan. Warna putih tulang berarti hanya menggunakan campuran kelapa parut. Warna cokelat muda menggunakan campuran kelapa parut dan gula merah. Warna cokelat tua menggunakan gula merah saja.

4. Papeda

Papeda
Image Credit: Kompasiana.com

Sebagai makanan utama, sagu diambil dari pohon dengan nama sama, pohon sagu, yang tumbuh lebat di tanah Papua. Pohon sagu punya banyak sekali kegunaan. Pelepah pohon sagu yang sudah berusia satu hingga tiga tahun dapat dijadikan sebagai tali pengikat. Selain itu, pohon sagu juga dijadikan sebagai cawat untuk pakaian dan aksesoris. Dan pucuk daunnya dapat dijadikan sebagai benang anyaman noken.

Suku Asmat menggunakan pohon sagu yang berusia empat hingga enam tahun sebagai atap rumah dengan mengalihfungsikan daunnya dan dinding rumah dengan mengalihfungsikan pelepahnya serta getah dari pelepah muda sebagai lem perekat. Dan pohon sagu dijadikan sebagai tepung setelah mencapai usai enam hingga delapan tahun dengan mengolah batangnya.

Suku Asmat menyebut sagu dengan panggilan waliha, soghulu, ambas, manno, rondo, yakhali, dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya panggilan ini, Suku Asmat membuat papeda darinya. Cara membuat kuliner ini sangat mudah.

Pertama, Anda perlu menyiapkan dua buah panci. Satu panci untuk merebus air dan panci sisanya untuk merebus tepung sagu yang sudah dicampur dengan segelas air dan garam serta bawang putih. Lalu, air yang mendidih dimasukkan ke dalam panci yang berisi campuran tepung sagu. Tunggu hingga mengental dengan api kecil.

Untuk mengetahui tepung sagu sudah masak atau belum, lihat saja warnanya. Bila sudah berwarna bening, maka itu sudah masak. Dan bila sudah tidak ada tetesan air, maka itu artinya larutan tepung sagu sudah bisa dikatakan sebagai papeda atau sagu masak.

Oleh masyarakat Suku Asmat, papeda dianggap sebagai pengganti nasi. Lauk yang biasa mereka makan saat menyantap papeda yakni ikan bakar, sambal, dan kuah bening. Mereka akan memasak kuliner ini mendadak saat waktu makan sudah datang. Oleh karena itu, kesegaran dan kehangatan dari papeda masih terjaga.

Warga Suku Asmat biasa menyantap papeda menggunakan gata-gata. Yaitu kayu bambu yang dibuat pipa memanjang seperti sumpit dari Jepang. Anda juga bisa meniru mereka saat akan menyantap papeda ini. Setelah tahu alat untuk membantu Anda makan, sekarang Anda perlu tahu cara memakannya. Tarik papeda dengan cepat lalu langsung masukkan ke dalam mulut.

Bila merasa sulit, Anda bisa mendekatkan bibir Anda ke dekat bibir mangkuk untuk kemudian menyeruputnya seperti sedang saat menyeruput mi instan. Setelah menyantap habis satu mangkuk papeda, Anda akan merasa kenyang karena kuliner ini mengandung tiga zat utama yakni karbohidrat, fosfor, dan kalsium yang akan membuat Anda berenergi.

Itulah daftar makanan khas Suku Asmat yang unik dan patut Anda coba. Ulasan mengenai resepnya juga sudah diberikan sehingga Anda yang ingin kembali merasakan kerinduan akan kuliner Suku Asmat bisa mencobanya di rumah.