Masjid Agung Al-Karomah, Masjid Megah yang Sarat Nilai Sejarah di Martapura

Masjid Agung Al-Karomah, Masjid Megah yang Sarat Nilai Sejarah di Martapura
Harga Tiket: Gratis, Jam Operasional: 05.00-21.00 WITA, Alamat: Jl. A. Yani, Cindai Alus, Kec. Martapura, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan; Map: Cek Lokasi

Masjid Agung Al-Karomah merupakan rumah ibadah muslim terbesar di Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Berdiri megah di Kabupaten Banjar sekaligus menjadi markah tanah di Kota Martapura. Posisinya yang strategis membuatnya mudah diakses oleh jamaah dari berbagai penjuru. Berada di ruas jalan nasional dan menghubungkan Kalimantan Timur dari arah utara sampai ke Banjarmasin.

Banyak kegiatan keagamaan berlangsung di masjid, tidak hanya sekadar pelaksanaan ibadah ritual semata. Anda bisa mendengarkan kajian dan nasihat-nasihat islami rutin. Selain itu, ikut membantu penyaluran sedekah, infak, zakat, serta wakaf. Berfungsi pula sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat, sekaligus TPA, dan bahkan madrasah.

Didirikan sejak tahun 1897 silam, Masjid Agung Al-Karomah telah menjadi saksi bisu atas 12 sultan yang memerintah di Kerajaan Banjar, Martapura. Mengingat krusialnya kedudukan masjid ini pada masa silam, tidak heran masyarakat tergerak untuk senantiasa melakukan pembenahan hingga kini. Mampu menampung 21.000 jamaah, memiliki 3 menara, dan fasilitas penunjang lainnya.

Sejarah Masjid Agung Al-Karomah

Sejarah Masjid Agung Al-Karomah
Image Credit: Google Maps (Replika ID)

1. Berawal dari Pusat Kerajaan Banjar, Martapura

Masjid Agung Al-Karomah merupakan saksi bisu atas pemerintahan 12 sultan di Kerajaan Banjar. Memiliki peranan penting dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan, di samping berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual. Kesultanan juga kerap menjadikan masjid ini sebagai pusat penyebaran dakwah, serta integrasi umat Islam di berbagai kalangan.

Lebih jauh, menjadi benteng pertahanan dan perlawanan penduduk setempat dalam mempertahankan wilayah kesultanan dari penjajahan Belanda. Namun kemudian, terjadi pembakaran Kampung Pasayangan yang juga merusak Masjid Martapura pada saat itu. Akibatnya, muncul inisiatif untuk membangun rumah ibadah yang lebih besar di tahun 1863.

2. Nama Sebelumnya dan Konstruksi Bangunan

Dahulu, masjid ini diberi nama Masjid Jami’ Martapura. Panitia pembangunan yang bertanggung jawab kala itu adalah HM. Afif (Datuk Landak), HM. Nasir, dan HM. Taher (Datuk Kaya). Tentu, dengan didukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda serta Mufti HM.Noor.

Menurut catatan sejarah, Datuk Landak selaku sokoguru masjid menerima amanah untuk mencari kayu ulin. Pencarian tersebut membawanya hingga ke wilayah Kalimantan Tengah, persisnya Barito. Dia lantas berhasil mengumpulkan tiang ulin, di mana hal ini sekaligus menjadi pertanda dimulainya pembangunan masjid yang baru.

Sejarah Masjid Agung Al-Karomah Martapura
Image Credit:  Google Maps (rayaevr)

Proses pembangunan kembali secara resmi dimulai pada 5 Desember 1897. Memanfaatkan material kayu ulin sebagai struktur utama, baik tiang, lantai, maupun dindingnya. Adapun untuk atapnya sendiri, menggunakan variasi sirap. Sampai sekarang masih terus dilakukan pembenahan, tetapi struktur utama bangunan masih dipertahankan.

Memasuki era 1994 tepatnya tanggal 20 Agustus, nama Masjid Jami’ Martapura resmi diubah menjadi Masjid Agung Al-Karomah bersamaan dengan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Senin 12 Rabiul Awal 1415 H.

3. Renovasi Terbaru

Sudah lebih satu abad sejak pertama kali didirikan, masjid ini sampai sekarang masih berdiri kukuh. Kini konstruksi bangunannya memanfaatkan beton dan dilengkapi rangka atap berbahan dasar baja stainless. Dirangkai dalam struktur space frame dengan kubah yang berlapis material enamel.

Namun demikian, Anda masih bisa melihat struktur utama Masjid Jami’ Martapura terdahulu karena tetap dipertahankan oleh pihak panitia pembangunan. Hal tersebut bertujuan untuk mengenang bukti sejarah sebagai awal mula berdirinya masjid ini.

Alamat dan Rute Menuju Lokasi Masjid

Lokasi Masjid Al-Karomah
Image Credit:  Google Maps (El Fani)

Masjid Agung Al-Karomah Martapura bisa Anda kunjungi menggunakan angkutan umum atau pribadi mengingat letaknya yang strategis. Berdiri di jalan utama antar kota sehingga mudah diakses dari berbagai penjuru kota. Jika berangkat dari Kota Banjarmasin, setidaknya butuh waktu sekitar 1 jam. Di lain pihak, hanya memerlukan waktu 30 menit saat bertolak di pusat Kabupaten Banjar.

Posisinya ada di ruas jalan penghubung Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, persis di seberang Perkantoran Sekretariat Daerah Kabupaten Banjar. Lebih lengkap, terletak di Jalan Ahmad Yani, Cindai Alus, Kecamatan Martapura.

Gaya Desain Masjid Agung Al-Karomah

Desain Masjid Agung Al-Karomah
Image Credit:  Google Maps (Ahmad Rafi)

1. Inspirasi Arsitektur

Ditinjau dari model arsitekturnya, Masjid Agung Al-Karomah Martapura tampak mengadopsi desain Masjid Demak besutan Sunan Kalijaga di Jawa Tengah. Jika ingin melihat miniaturnya, Anda bisa mengunjungi Desa Dalam Pagar. Dari situ, dapat diketahui bahwa masjid ini memiliki ukuran yang sangat rapi di mana bangunan aslinya dirancang berdasarkan penggunaan skala tertentu.

Merujuk pada pengakuan K.H. Halilul Rahman selaku Sekretaris Umum pengurus masjid, sebenarnya sudah dilaksanakan renovasi sampai tiga kali. Bentuk desainnya sendiri mengusung konsep bangunan ala Eropa modern sehingga membuatnya terlihat begitu megah. Tiang-tiang tinggi berdiri tegak menopang sisi-sisi masjid.

Namun demikian, pihak pengurus tetap mempertahankan empat tiang ulin bawaan Datuk Landak di masa lampau. Tiang tersebut berada di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh puluhan tiang beton yang tersebar di seluruh penjuru masjid.

2. Biaya Pembangunan

Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2004. Sudah hampir dua dekade terlewati, saat itu biaya yang dihabiskan mencapai nominal Rp27 miliar. Desainnya banyak mengadaptasi gaya Timur Tengah dengan campuran Eropa. Sebagai contoh, bentuk atapnya seperti kubah bawang yang ornamennya mencirikan gaya khas Negeri Kincir Angin.

Pada mulanya, kubah tersebut berbentuk kerucut dan konstruksinya memanfaatkan atap tumpang. Di samping itu, gaya arsitektur bangunan mengambil desain masjid tradisional Banjar. Baru berubah menjadi bentuk kubah usai melewati beberapa kali renovasi.

Desain Masjid Agung Al-Karomah Martapura
Image Credit: Google Maps (Faisal Muhammad)

3. Tetap Mempertahankan Mimbar Khatib

Berbeda dengan arsitektur secara keseluruhan, bagian dalam masjid ini masih mempertahankan desain lama untuk beberapa detail kecil. Misalnya saja, mimbar tempat khutbah khatib yang sudah berumur lebih dari satu atap, tetapi masih berfungsi dengan baik hingga sekarang.

Mimbar tersebut memiliki ukiran dengan untaian kembang. Bentuknya seperti panggung dan disertai tangga. Hasil rancangan HM. Musyafa ini masih berguna secara optimal hingga kini.

4. Desain Interior dan Cerita Singkat Terdahulu

Masjid Agung Al-Karomah Martapura juga mengadaptasi pola ruang masjid lain, yaitu Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Hal ini dipengaruhi oleh sejarah masuknya agama Islam ke wilayah Martapura yang dibawa oleh Khatib Dayan. Namun demikian, akibat seringnya terjadi perluasan masjid dan renovasi, arsitek serupa Masjid Agung Demak hanya tersisa di beberapa bagian.

Sisa-sisa bangunan lama bisa dilihat pada empat tiang ulin yang berada di tengah-tengah masjid atau kerap dilabeli sebagai tiang guru dari bangunan terdahulu. Tiang guru maksudnya merujuk pada susunannya yang dilingkupi oleh tiang-tiang lain dengan desain lebih modern. Tiang yang mengelilingi ruang keramat atau ruang cella.

Ruang cella tersebut dikelilingi lagi oleh tiang guru yang ada di hadapan ruang mihrab. Itu berarti, dalam tinjauan kosmologi, ruang mihrab tidak lebih penting dari ruang cella. Berdasarkan catatan sejarahnya, empat tiang guru yang ada di sini menggunakan tali ketika pertama kali diangkut oleh Datuk Landak.

Dengan dipandu oleh Datuk Landak, masyarakat membantu beramai-ramai agar bisa berdiri tegak. Tali yang dipakai saat itu adalah seradang. Lalu atas izin Yang Maha Kuasa, penopang awal masjid saat itu berhasil didirikan. Pada bangunan perdananya, ukuran masih terbilang kecil, hanya seluas 37,5 meter persegi.

Atas panjangnya catatan sejarah berdirinya masjid ini, wajar jika masyarakat menganggap beberapa bagian terdahulu menjadi sesuatu yang sedikit keramat. Itu bisa diartikan sebagai bentuk penghargaan terhadap generasi sebelumnya yang sudah bersusah payah mendirikan masjid kembali setelah dihancurkan oleh penjajah Belanda.

Fasilitas yang Tersedia di Masjid Agung

Fasilitas di Masjid Agung Al-Karomah
Image Credit: Google Maps (Amalia Alia)

Pengelola masjid menyediakan banyak fasilitas pendukung sehingga memberi kemudahan kepada para jamaah selama beribadah di sini. Ada kamar mandi bersih, seperangkat sound system dan multimedia, tempat wudu khusus, dan genset sebagai sumber listrik cadangan.

Dilengkapi pula tempat penitipan alas kaki, AC, dan lahan parkir luas. Jika memiliki kepentingan khusus, misalnya ingin menyalurkan donasi, Anda juga bisa langsung mengunjungi kantor sekretariat di area sekitar masjid. Pada dasarnya Masjid Al-Karomah menghadirkan suasana nyaman dan menenteramkan.

Kegiatan Rutin yang Diselenggarakan di Masjid Agung Al-Karomah

Kegiatan Rutin di Masjid Agung Al-Karomah
Image Credit: Google Maps (Arif bezzo)

Selain tempat ibadah salat, jamaah bisa mengikuti sejumlah kegiatan rutin di Masjid Agung Al-Karomah. Sebut saja, acara dakwah atau tablig akbar, pengajian rutin, dan pendidikan berbasis keagamaan. Di samping itu, pihak pengelola memfasilitasi penyaluran zakat, infak, wakaf, serta sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan, juga sebagai dana untuk perawatan masjid.

Adapun bentuk pendidikan berbasis keagamaan yang diselenggarakan antara lain TPA dan madrasah. Dengan demikian, warga yang ingin memperdalam pemahaman seputar bacaan Alquran bisa mampir ke sini. Sejalan dengan tujuan pembangunannya, rumah ibadah muslim di Kota Martapura ini sekaligus berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat.

Memang sudah semestinya masjid menjadi pusat spiritualitas masyarakat, tidak hanya sekadar sarana menjalankan ibadah ritual semata. Masjid Agung Al-Karomah Martapura telah berhasil mengimplementasikan fungsi tersebut. Meski tentu saja, masih banyak hal yang bisa dikembangkan demi meraih kemaslahatan bersama